RA Kartini Inisiator Terjemah Al Quran Pertama Yang Banyak Orang Belum Tahu
RA Kartini Inisiator Terjemah Al Quran Pertama Yang Banyak Orang Belum Tahu--Foto:ist
RBTVCamkoha.com -Kisah ini bermula dari sebuah kegelisahan yang mendalam di hati Raden Ajeng Kartini, putri bangsawan Jepara, di penghujung abad ke-19. Di tengah masyarakat yang begitu memuliakan Al-Qur'an, ada rasa ganjal yang tak bisa ia pungkiri. Umat Islam saat itu rajin membaca Kitab Suci dalam bahasa Arab, namun sayangnya, sangat sedikit yang benar-benar mengerti makna di balik setiap ayat yang dibacanya. Larangan keras untuk menerjemahkan Al-Qur'an ke bahasa lain—yang saat itu diyakini oleh banyak ulama—membuat Kartini merasa terkurung, seolah-olah ia sedang memegang harta yang sangat berharga namun terkunci rapat, tanpa tahu cara membukanya.
BACA JUGA:Bupati Seluma Usulkan Pendirian Rindam ke Menhan Sjafrie Sjamsoeddin
???? Surat-surat yang Menggugah Hati
Kegelisahan itu ia tuangkan dengan jujur dalam surat-suratnya kepada sahabat pena di Belanda, Stella Zeehandelaar. Dalam surat bertanggal 6 November 1899, ia menulis dengan nada yang begitu menyentuh:
"Alquran dianggap terlalu suci untuk diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar setiap Muslim bisa memahaminya. Namun, kenyataannya di sini, tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Orang-orang belajar membaca Alquran, tapi mereka buta terhadap makna yang dibacanya."
BACA JUGA:Heboh Cahaya Misterius di Langit Sabtu Malam, BMKG Pastikan Bukan Fenomena Meteorologi, lalu Apa?
"Bagiku, itu adalah hal yang tidak masuk akal: mengajar seseorang membaca, tapi tidak mengajarinya arti dari apa yang dibaca. Sama saja seperti menyuruhku menghafal kalimat dalam Bahasa Inggris, tapi tidak pernah memberitahu artinya."
BACA JUGA:Warga Desa Niur Seluma Meninggal Dunia Saat Isi BBM di SPBU Sukaraja
Bagi Kartini, mustahil bagi seseorang untuk bisa benar-benar mencintai agamanya jika hanya menjalankan ritual tanpa pemahaman yang mendalam. Ia bahkan pernah mengaku enggan lagi membaca Al-Qur'an karena merasa asing dengan maknanya, seperti yang ia ceritakan dalam surat kepada Nyonya Abendanon pada tahun 1902. Baginya, Al-Qur'an harusnya menjadi cahaya penunjuk jalan, bukan sekadar rangkaian kata yang indah namun tak tersentuh maknanya.
BACA JUGA:Geger, Benda Bercahaya Melintas di Langit Bengkulu, Ini Kata BMKG
???? Pertemuan yang Membawa Pencerahan
Namun, takdir mempertemukan Kartini dengan sosok yang akan mengubah pandangannya. Ia bertemu dengan Kiai Sholeh bin Umar al-Samarani, atau yang lebih dikenal sebagai Kiai Sholeh Darat, ulama besar asal Semarang yang juga guru dari para pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia—KH. Hasyim Asy'ari (NU) dan KH. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah).
BACA JUGA:Puluhan Rumah Rusak Berat di Rejang Lebong Akibat Angin Kencang
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


