Mahasiswa UNRAS Bengkulu Utara Temui Bupati Arie Luruskan Polemik Dugaan Intimidasi
--
Bengkulu Utara, RBTVCamkoha.com – Polemik dugaan intimidasi yang sempat menyeret nama Bupati Bengkulu Utara Arie Septia Adinata dan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Ratu Samban (BEM UNRAS) menemukan titik terang.
Sebelumnya, dalam konferensi pers pada Senin, 6 April 2026, BEM UNRAS telah memberikan klarifikasi resmi terkait isu yang berkembang.
Melalui pembina BEM, Yoki Ramadan, ditegaskan bahwa kegaduhan bermula dari kekecewaan personal Febrian Sugiarto atas ketidakhadiran Bupati dalam sebuah seminar yang digelar pada 10 Maret 2026.
Saat itu, Bupati mendelegasikan kehadiran kepada Asisten I Setdakab Bengkulu Utara.
BACA JUGA:Ditreskrimsus Polda Bengkulu Usut Dugaan Korupsi Rekrutmen Tenaga Non ASN di RSKJ Soeprapto
Dalam klarifikasi tersebut, BEM UNRAS juga menegaskan bahwa Febrian bukan lagi menjabat sebagai Presiden Mahasiswa sejak Januari 2026, serta menyatakan bahwa segala tindakannya tidak merepresentasikan organisasi.
Bahkan, BEM UNRAS menyampaikan permohonan maaf kepada pemerintah daerah dan memutuskan untuk mundur dari keanggotaan BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) demi menjaga kondusifitas.
BACA JUGA:Petani Gagal Panen, Ratusan Hektare Lahan Pertanian di Kabupaten Seluma Rusak Parah Akibat Banjir
Menindaklanjuti polemik tersebut, pada Selasa, 7 April 2026, Febrian bersama sejumlah mahasiswa UNRAS mendatangi Kantor Bupati Bengkulu Utara untuk melakukan pertemuan langsung dengan Bupati Arie Septia Adinata.
Pertemuan ini menjadi langkah konkret dalam meluruskan kesalahpahaman yang sempat berkembang luas di publik, khususnya di media sosial.
“Hari ini terbangun komunikasi yang baik antara mahasiswa UNRAS dengan pemerintah daerah. Kami berdiskusi panjang lebar terkait agenda ke depan, sekaligus meluruskan kisruh yang sempat beredar di media sosial agar tidak menjadi bola liar di masyarakat,” ujar Arie.
BACA JUGA:Dinas Pendidikan Kota Bengkulu Data Sekolah Terdampak Banjir, Terparah SD Negeri 89 Korpri Bentiring
Ia menegaskan bahwa isu intimidasi yang beredar sebelumnya lebih disebabkan oleh miskomunikasi dan kesalahan persepsi.
“Kalaupun ada permasalahan yang berkembang dan disebut sebagai ancaman atau intimidasi, itu merupakan miss komunikasi, sehingga menimbulkan persepsi berbeda,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



