Berendo Maggot Tanah Patah Jadi Percontohan Pengelolaan Sampah Organik
Walikota Bengkulu, Dedy Wahyudi meninjau berendo Maggot di Tanah Patah.--
BENGKULU, RBTVCamkoha.com - Pemerintah Kota Bengkulu mendorong pengelolaan sampah organik menjadi maggot sebagai salah satu solusi mengurangi timbunan sampah sekaligus meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.
Program tersebut dikembangkan melalui Berendo Maggot di Kelurahan Tanah Patah, Jalan Musium RT 9/RW 3, bekerja sama dengan mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) tahun 2026.
Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi mengatakan, program di Tanah Patah menjadi percontohan yang nantinya diharapkan dapat diterapkan di kelurahan lain. Pengelolaan maggot juga terintegrasi dengan budidaya ikan lele dan itik, dengan maggot dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif pakan.
“Diawali di Kelurahan Tanah Patah, dibantu anak-anak KKN UMB, kita lihat pengolahan maggot ini bisa terintegrasi dengan kolam lele dan budidaya itik. Ini menjadi percontohan yang nanti akan kita kembangkan di seluruh kelurahan,” kata Dedy.
BACA JUGA:Pasca Kebakaran, Gedung SMPN 19 Kota Bengkulu Dibangun Kembali
Menurutnya, sampah organik atau sampah basah yang selama ini tidak memiliki nilai guna dapat diolah menjadi maggot sehingga lebih bermanfaat. Sementara sampah plastik sudah memiliki pihak yang menampung untuk didaur ulang.
Dedy mengatakan, Pemkot Bengkulu juga tengah melihat kemungkinan dukungan anggaran melalui dana kelurahan untuk pengembangan budidaya maggot, dengan tetap memperhatikan ketentuan dan regulasi yang berlaku. “Semoga nanti bisa kita anggarkan dana kelurahan secara khusus untuk pengelolaan maggot, tetapi kita masih melihat regulasinya,” ujarnya.
Ia berharap program tersebut tidak hanya berjalan karena semangat di awal, tetapi dapat dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Selain mengurangi sampah, budidaya maggot dinilai berpotensi meningkatkan nilai ekonomi dan menjadi alternatif pakan bagi budidaya ikan maupun ternak.
BACA JUGA:Punya 30 Karyawan dan Rumah Bak Istana, Ini Penjelasan Ustaz Riza Muhammad
“Jangan hanya semangat di awal dan kemudian berhenti. Ini harus dilakukan terus-menerus, sehingga sampah yang sebelumnya tidak berguna bisa menjadi maggot yang berguna dan penuh manfaat,” tutur Dedy.
Dedy juga mengapresiasi kolaborasi mahasiswa KKN UMB dengan pemerintah kelurahan dalam menghadirkan solusi pengelolaan sampah organik. Menurutnya, kerja sama lintas sektor seperti ini dapat menjadi contoh bagi kelurahan lain untuk mengembangkan program yang bermanfaat bagi masyarakat.
Verdi Dwiansyah
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

