BACA JUGA:Simulasi Pinjaman Adapundi Rp 1 Juta, Penuhi Syarat Ini Dana Cair
Persoalan lain yang ikut membayangi perkembangan AI adalah limbah elektronik. Infrastruktur AI diperkirakan dapat menghasilkan hingga 2,5 juta ton limbah elektronik setiap tahun pada 2030.
Negara-negara berpendapatan rendah berpotensi menghadapi beban yang lebih berat karena fasilitas pengelolaan limbah yang aman belum tentu tersedia secara memadai.
AI memang menawarkan banyak kemudahan dan manfaat. Namun, teknologi ini tetap memiliki jejak lingkungan yang sering kali tidak terlihat oleh penggunanya.
Setiap perintah yang dikirim mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa detik di layar, tetapi di belakangnya ada pusat data, listrik, air, perangkat keras, dan berbagai sumber daya yang ikut bekerja.
Karena itu, perkembangan AI tidak hanya perlu dilihat dari seberapa pintar teknologi tersebut, tetapi juga dari seberapa efisien sumber daya yang digunakan untuk menjalankannya.
BACA JUGA:Dolar Mendekati Rp18 Ribu, Apa yang Bakal Terjadi pada Harga Barang di Indonesia?
(Hafidzah)