8 Paradoks Teknologi Informasi
Oleh: Kompol M. Syahir Fuad Rangkuti*Perkembangan Teknologi Informasi (TI), saat ini merambah ke seluruh lini kehidupan. Satu sisi IT mempermudah kehidupan namun demikian ia memiliki paradoks.
Dalam sebuan orasi ilmiah Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bengkulu (Unib), Prof. Willy Abdillah, mengemukakan terdapat 8 paradoks Teknologi Informasi (TI) yang terjadi dewasa ini.
Hal ini saya kutip dan sarikan dari orasi ilmiah beliau. Ia kemukan dalam orasi ilmiah guru besarnya berjudul "Paradoks Teknologi Informasi: Urgensi dan Sistem tata Kelola" yang ia sampaikan dalam pengukuhan guru besar di Unib belum lama ini.
Willy mengemukakan perkembangan TI bergerak ke otomasi, konektivitas tinggi dan kecerdasan buatan, ditemukan banyak terobosan seperti komputasi kuantum, metaverse yang lebih matang dan integrasi manusia melalui neurotechnology. Namun tantangan keamanan data, kesenjangan digital, dan etika Artificial Intelegency (AI) harus diatasi agar kemajuan bisa dinikmati secara inklusif, terutama big data dan AI di industry social.
"Jangan sampai kemajuan teknologi justru menciptakan masalah baru yang kontra-intuitif," tulis Prof Willy.
Setidaknya, Willy membeberkan 8 paradoks TI. Pertama Paradoks TI mengacu pada fenomena Ketika kemajuan TI justru menciptakan masalah baru yang kontra-intuitif. TI dirancang meningkatkan efisiensi, konektivitas dan kualitas hidup namun dalam praktiknya sering kali menghasilkan produktivitas versus penurunan kesejahteraan mental, konektivitas global versus isolasi social, otomatisasi versus pengangguran teknologi, dan akses informasi tak terbatas versus missinformasi massif.
Kedua paradoks konektivitas, yakni pengguna media social lebih dari dua jam per hari memiliki risiko kesepian dua kali lebih tinggi. Ia membeberkan sejumlah penelitian internasional yang menunjukkan pengguna media social banyak ditemukan kemungkinan depresi, kesepian.
Data WHO 2023 menunjukkan lonjakan 40 persen depresi remaja terkait penggunaan Instagram dan tiktok berlebihan. Standford (2022) melalukan studi grup yang "detoks" atau berhenti menggunakan media social selama satu minggu meningkatkan kebahagiaan mencapai 37 persen.