8 Paradoks Teknologi Informasi
Kompol M. Syahir Fuad Rangkuti--
Data WHO 2023 menunjukkan lonjakan 40 persen depresi remaja terkait penggunaan Instagram dan tiktok berlebihan. Standford (2022) melalukan studi grup yang "detoks" atau berhenti menggunakan media social selama satu minggu meningkatkan kebahagiaan mencapai 37 persen.
Paradoks konektivitas disebabkan mekanisme Fear of Missing Out (FOMO) yang dialami 62 persen milenial merasa cemas jika tak mengecek media social, (American Psychological Associaton, 2023)," ungkap dia.
Ketiga, paradoks otomasi, ditemukan 47 persen pekerjaan di AS berisiko digantikan AI namun sebaliknya di Jerman, pabrik otomasi justru mempekerjakan 15 persen lebih banyak manusia untuk maintenance dan programming. Bank Dunia menyebutkan setiap robot indusri menghilangkan 3 hingga 5 pekerjaan, tetapi menciptakan 1 hingga 2 pekerjaan baru di sector TI.
Keempat Paradoks limpahan informasi, ditemukan dari berbagai riset berita palsu menyebar enam kali lebih cepat dari pada berita benar di Twitter. Laporan Reuters (2023) menyataka 58 persen orang kesulitan membedakan fakta dan hoaks di media social. Eksperimen Yale (2021) menemukan paparan informasi berlebihan mengurangi akurasi pengambilan keputusan hingga 40 persen.
Limpahan informasi ini terjadi adanya algoritma engagement, yakni platform memberi intensif pada konten provokatif dan cognitive overload, yaitu otak manusia hanya bisa memproses 74 GB informasi per hari namun internet menghasilan 2,5 quintillion byte per hari," ujarnya.
Kelima paradoks isolasi social, berdasarkan Studi Pew Research (2023) menyatajkan 58 persen pengguna internet merasa kesepian meskipun memiliki banyak teman digital. Pengguna media social berat memiliki risiko 2,7 kali lebih tinggi dibandingkan pengguna ringan.
Negara dengan penetrasi internet tinggi lebih dari 80 persen mengalami peningkatan 30 persen kasus depresi pada remaja. serta mengalami kesepian. Paradoks isolasi social teridentifikasi terjadinya pergantian interaksi tatap muka menurun dari 6 jam per minggu menjadi 2 jam per minggu. hubungan dangkal interaksi online menghasilkan 50 persen lebih sedikit ikatan emosional.
Keenam, paradoks kebodohan kolektif, penelitian Microsoft (2015) menemukan rentang perhatian manusia turun ari 12 detik menjadi 8 detik lebih pendek dari ikan mas 9 detik. Ditemjukan juga 82 persen siswa tidak bisa membedakan artikel palsu dan asli. 70 persen pengguna media social tidak memverifikasi informasi sebelum membagikan.
Eksperimen Nature (2019) menemukan kelompok dengan akses internet tak terbatas menjawab 23 persen lebih salah pada tes pengetahuan umum dibanding kelompok tanpa internet.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
