Bukan Ucapan Semata, Begini Sejarah Kalimat Minal Aidin Wal Faizin saat Lebaran
Tahu sejarah ucapan Minal Aidin Wal Faizin?--
NASIONAL, RBTVCamkoha.com - Ucapan "minal aidin wal faizin" adalah ucapan yang kerap terdengar saat Hari Raya Idul Fitri. Ucapan ini seperti sudah menjadi tradisi saat Idul Fitri bagi umat Islam Tanah Air.
Mengucapkan kalimat ini biasanya dilakukan ketika umat Islam saling berkunjung ke tempat keluarga, kerabat, sahabat, hingga tetangga. Satu sama lain saling berjabat tangan dan mengucapkan “Minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.”
Lantas, apakah kamu tahu bagaimana sejarahnya kalimat ini bisa menjadi ucapan yang mentradisi di kalangan muslim tanah air saat Idul Fitri?
"Minal aidin wal faizin" merupakan petikan dari bahasa Arab. ‘Aidin berasal dari kata ‘aidu yang artinya kembali. ‘Aidin merupakan bentuk fail (pelaku) yang menjadi jamak mudzakkar salim.
"aidin" dapat diartikan “orang-orang yang kembali”, sementara, "al faizina" diambil dari kata kerja (fiil) faza. Seperti halnya "al ‘aiduna," "al faizina" juga menjadi jamak mudzakkar salim yang berarti “orang-orang yang menang”.
BACA JUGA:6 Tanda Akhir Zaman Mulai Muncul, Ada Pemimpin yang Zalim dan Perperangan Dahsyat
Pengertian "jamak mudzakkar salim" adalah bentuk kata yang menyatakan lebih dari satu dalam bentuk yang selamat dari perubahan pada struktur pokoknya dan menunjukkan arti laki-laki, disebut salim karena penanda perubahan berupa imbuhan akhir atau sufiks sehingga disebut salim, salim berarti ‘selamat atau utuh’.
Ucapan "minal aidina wal faizin", ternyata merupakan petikan dari lantunan syair pada masa Andalusia. Andalusia adalah sebuah komunitas otonomi Spanyol.
Andalusia adalah wilayah otonomi paling padat penduduknya dan kedua terbesar dari 17 wilayah yang membentuk Spanyol. Ibu kotanya adalah Sevilla.
Penyair bernama Shafiyuddin al-Huli membawakan sebuah syair yang mengisahkan dendangan kaum wanita pada hari raya. Petikan dari salah satu syairnya itu terdapat kalimat “Ja’alna minal ‘aidina wal faizina (jadikan kami dari orang-orang yang menang dan orang-orang yang beruntung).”
Ucapan tersebut memiliki sejarahnya sendiri, terutama terkait Perang Badar, perang antara antara umat Islam melawan Quraisy.
Dilansir dari berbagai sumber, dalam sejarah Islam, perayaan Idul Fitri pertama kali adalah pada 624 Masehi atau tahun kedua hijriah. Waktu tersebut bertepatan dengan selesainya Perang Badar yang dimenangkan oleh kaum Muslimin.
Perang Badar sendiri terjadi pada 17 Ramadan dan pasukan Rasulullah hanya berjumlah sedikit jika dibandingkan dengan jumlah musuh. Namun berkat perlindungan dan bantuan Allah SWT, Perang Badar bisa dimenangkan oleh Rasulullah dan para pasukannya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


