Sholat Id 13 Titik di Bengkulu Utara, Jemaah Padati Masjid Ahmad Dahlan Arga Makmur
Sholat Id di Majid Ahmad Dahlan, Arga Makmur--
BENGKULU UTARA, RBTVCamkoha.com - Jemaah Muhammadiyah di Kabupaten Bengkulu Utara melaksanakan Sholat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah secara serentak di 13 titik yang tersebar di berbagai wilayah, Jumat (20/3).
Di Kecamatan Arga Makmur, pelaksanaan dipusatkan di halaman depan Masjid Ahmad Dahlan, Kelurahan Purwodadi. Sejak pagi hari, jemaah telah berdatangan dengan mengenakan pakaian terbaik, menciptakan suasana khidmat yang sarat kebersamaan.
Antusiasme jemaah terlihat begitu tinggi. Bahkan, jumlah jemaah yang hadir membludak.
Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bengkulu Utara, Jaya Rahchmad yang juga bertindak sebagai khatib, menyampaikan jika pemilihan lokasi di halaman masjid dilakukan untuk mengakomodasi jumlah jemaah yang terus meningkat setiap tahunnya.
“Penyiapan lokasi ini diperuntukkan bagi masyarakat yang akan melaksanakan sholat Idulfitri pada 20 Maret 2026. Kami ingin memastikan seluruh jemaah dapat beribadah dengan nyaman dan khusyuk,” ujar Jaya.
Secara keseluruhan ada 13 titik pelaksanaan Salat Idulfitri Muhammadiyah di Bengkulu Utara. Hal ini merupakan bentuk pelayanan kepada warga agar dapat melaksanakan ibadah lebih dekat dengan tempat tinggal masing-masing.
Pelaksanaan sholat berlangsung tertib dan lancar, diawali dengan khutbah yang mengangkat tema pentingnya menjaga kebersamaan, mempererat silaturahmi, serta meningkatkan kepedulian sosial setelah menjalani bulan suci Ramadan.
Usai sholat, suasana hangat penuh kekeluargaan terlihat saat para jemaah saling bersalaman dan bersilaturahmi, menandai momen kemenangan dengan penuh kebahagiaan.
Di sisi lain, terdapat perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri antara Muhammadiyah dan pemerintah. Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, berdasarkan hasil sidang isbat pada 19 Maret 2026, karena hilal tidak terlihat di seluruh titik pemantauan di Indonesia sehingga bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari.
Menanggapi hal tersebut, Jaya Rahchmad menilai perbedaan tersebut sebagai hal yang wajar dan tidak perlu dipertentangkan.
“Perbedaan ini hal biasa. Bukan untuk dipertentangkan. Pemerintah maupun Muhammadiyah sama-sama memiliki dasar dan argumen yang kuat. Perbedaannya hanya pada metode yang digunakan,” jelasnya.
Ia menerangkan, Muhammadiyah menggunakan pendekatan Kalender Hijriah Global Tunggal, yakni metode yang tidak hanya bergantung pada visibilitas hilal di wilayah tertentu, tetapi berlaku secara global.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


