Pulang sempoyongan kalah main pukul istri,
Akibatnya sang ketupat melayang ke mate,
Si penjudi mateng biru dirangseng si istri."
Tak cukup hanya dengan menyinggung kesenjangan sosial saja, Ismail Marzuki juga memasukkan sentilan tentang korupsi yang terjadi kala itu.
Melansir dari situs Kemdikbud, pria kelahiran Jakarta tahun 1912 itu juga menuliskan bait 'Lang tahun hidup prihatin, kondangan boleh kurangi, korupsi jangan kerjain' dalam lagu Hari Lebaran.
Sebagai pemimpin, hiduplah dengan sederhana dan jangan sombong, apalagi korupsi. Itu pesan yang ingin disampaikannya.
BACA JUGA:Cara Masak Rendang agar Bisa Tahan Lama di Suhu Ruangan
Pesan dan sentilan ini masih terasa relevan dengan kenyataan korupsi yang terjadi bahkan hingga sekarang ini.
Tak hanya itu, dari lagu ini juga lah kalimat 'Minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin' populer diucapkan oleh masyarakat Indonesia ketika lagi Lebaran.
Dan lanjutan liriknya 'Selamat para pemimpin rakyatnya makmur terjamin' adalah sindiran yang dilayangkan oleh Ismail Marzuki untuk para pemimpin saat itu.
Namun, saat ini Lagu Hari Lebaran sudah banyak di aransemen ulang dengan lirik yang memiliki makna kebahagiaan menyambut hari raya Lebaran saja.
Putri Nurhidayati