Bengkulu, RBTVCamkoha.com - Di Era Gubernur Helmi Hasan, rumah tua itu bukan sekadar bangunan. Ia saksi bisu peradaban, tempat keputusan sejarah dibuat, dan dinding yang menyimpan bisik zaman.
Ketika kita menelusuri jejak Sir Thomas Stamford Raffles di Bengkulu, kita diajak mundur ke awal abad ke-19, saat Inggris menggenggam kendali pemerintahan di pantai barat Sumatera ini.
BACA JUGA:Ayo Wirausaha Muda Tuangkan Ide-ide Segar dengan Ikuti Business Plan Competition 2026 HIPMI Bengkulu
Raffles tidak hanya meninggalkan dokumen kolonial, tetapi juga jejak personal yang membeku dalam arsitektur: rumah dinas, balai pertemuan, dan gedung-gedung resmi yang hingga kini masih berdiri tegak, meski fungsi dan zamannya telah berganti.
Dibangun pada masa kolonial, bangunan-bangunan itu memancarkan pesona klasik: kolom-kolom menjulang, pintu-pintu megah dengan ukiran Eropa tropis, dan tata ruang yang dulu dikelilingi taman rindang.
Seiring waktu, fungsi mereka bertransformasi. Dari kediaman pejabat kolonial menjadi kantor gubernur, tempat tinggal resmi, hingga pusat kegiatan para pemimpin daerah. Setiap era menambahkan lapisan cerita sendiri—kadang sunyi, kadang bergemuruh.
BACA JUGA:Punya Bentuk Unik, Ternyata Punya 15 Manfaat Buah Naga untuk Kesehatan Manusia
Di antara warisan arsitektural itu, Balai Semarak Bengkulu menempati ruang sejarah yang unik. Gedang ini diperkirakan lahir dari jejak kolonial Inggris atau Belanda, lalu menjadi panggung pergantian kekuasaan yang panjang. Sejak era kemerdekaan hingga kini, Balai Semarak telah menyambut kunjungan delapan Presiden Republik Indonesia dan menaungi jejak kepemimpinan sebelas gubernur Bengkulu sebelumnya yang silih berganti.
Namun, di balik dinding-dinding tua yang kokoh dan catatan kenegaraan yang padat itu, ada satu hal yang belum pernah digaungkan di dalamnya yakni panggilan azan Jumat.
BACA JUGA:Bengkulu di Cincin Api Pasifik, Pemprov dan Korem 041/Gamas Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Megathrust
Selama berpuluh-puluh tahun, ruang-ruang itu hanya digetarkan oleh derap langkah protokoler, rapat dinas, dan upacara resmi. Ibadah Jumat yang menjadi syiar umat Islam belum pernah dilaksanakan di sana. Bukan karena tak ada muslim, melainkan karena tak ada ruang yang disiapkan untuk masjid. Ada ruang musala kecil tapi jauh dari kepantasan untuk dipakai Jum’atan.
Gedung itu terasa "angker" bagi sebagian orang—bukan karena hantu, tetapi karena keheningannya yang tak bersentuhan dengan dzikir.
BACA JUGA:LinkUMKM BRI Dorong Perempuan Pengusaha Fesyen Naik Kelas, Olah Wastra Nusantara Jadi Busana Modern
Babak Baru di Bawah Helmi Hasan
Kehadiran Helmi Hasan sebagai Gubernur Bengkulu menandai babak baru dalam riwayat gedung ini. Di bawah kepemimpinannya, aura "angker" yang lama melekat pada ruang-ruang terlantar perlahan sirna.