Mungkin karena kurangnya sosialisasi kegiatan sensus, makanya si responden jadi kepo alias banyak melontarkan pertanyaan ke petugas. Buat apa sensus? Kenapa saya jadi responden? Berapa lama wawancaranya? Dan sederet pertanyaan lainnya.
BACA JUGA:Dapatkan Uang Gratis dengan Aplikasi Ini, Seru dan Terbukti Membayar
3. Responden ngasal
Eh, jangan salah loh. Kamu juga bakal ketemu sama responden yang ngasal.
Orangnya baik dan ramah, tapi karena saking banyaknya pertanyaan, si responden jadi malas menjawab. Ujung-ujungnya, jawabannya ngasal dan seadanya.
Bahkan, tak sedikit pula nanti responden yang terang-terangan bilang begini, "Sudah terserah Mas/mbak-nya saja mau diisi apa."
4. Responden ngeles
Sudah menjadi tantangan menjadi petugas sensus untuk menghadapi berbagai tipe responden, salah satunya responden yang suka ngeles.
Kalau pun berhasil dijumpai, biasanya menolak diwawancara dan minta didatangi di lain waktu.
BACA JUGA:Kadis Dikbud Kota Bengkulu Buka Haflah Hifzil Quran untuk 112 Orang Penghafal Al-Quran
5. Responden sombong
Bahkan, tidak sedikit responden yang terang-terangan menolak untuk diwawancarai. Malah ada juga yang sampai mengusir.
Ya, walaupun sudah dijelaskan tujuan dan manfaat sensus, ditunjukkan surat tugas resmi, bahkan didampingi Ketua RT sekalipun, tetap saja si responden enggak mau diwawancara.
6. Responden sibuk
Pasti nantinya saat di lapangan, kamu bakal nemuin responden yang sibuk. Saat didatangi ke rumahnya, enggak ada orangnya.
Ditanya ke Pak RT atau tetangga sekitarnya juga minim informasi. Orangnya ada, tapi jarang banget di rumah. Responden macam begini lumayan menguras tenaga, biaya, dan waktu juga.
BACA JUGA:Event Festival Gurita '2026 'Sambal Langat Gurita Kaur untuk Nusantara'' Resmi Dibuka Bupati Gusril Pausi
Putri Nurhidayati