Tradisi Lamaran Adat Sunda, Awal Indah Menuju Pernikahan

Sabtu 08-08-2026,10:13 WIB
Reporter : Hafidzah
Editor : Purnama Sakti

NASIONAL, RBTVCamkoha.com - Dalam adat Sunda, perjalanan menuju pernikahan tidak hanya ditandai dengan hari akad atau resepsi, tetapi juga diawali oleh berbagai rangkaian prosesi sebelum pernikahan yang penuh makna. 

Salah satu tahapan yang paling penting adalah lamaran, yaitu momen ketika pihak laki-laki menyatakan keseriusannya untuk meminang perempuan yang dicintainya. Tradisi ini bukan sekadar formalitas, melainkan menjadi simbol komitmen sekaligus awal hubungan yang lebih erat antara dua keluarga.

Umumnya prosesi lamaran dilaksanakan sekitar tiga hingga tujuh bulan sebelum hari pernikahan. Pada kesempatan ini, kedua keluarga biasanya bertemu untuk pertama kalinya dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan. 

Selain mempererat tali silaturahmi, pertemuan tersebut juga menjadi waktu yang tepat untuk membahas rencana pernikahan, termasuk menentukan tanggal pelaksanaan acara.

Dalam tradisi Sunda, terdapat beberapa tahapan penting yang dilakukan sebelum acara lamaran, yang mengawali proses lamaran sebagai tahap pertama dikenal dengan istilah neundeun omong, yang berarti menyimpan atau menitipkan janji.

BACA JUGA:Jangan Abaikan! Ini Tanda Pasangan Mungkin Terlalu Dekat dengan Rekan Kerja

Pada tahap ini, orang tua atau perwakilan keluarga calon mempelai laki-laki datang berkunjung ke rumah calon mempelai perempuan. Tujuan utamanya adalah menyampaikan niat baik sekaligus memastikan bahwa calon pengantin perempuan belum memiliki ikatan dengan orang lain. 

Setelah memperoleh jawaban yang baik, kedua keluarga biasanya mulai berdiskusi mengenai rencana lamaran resmi dan berbagai persiapan menuju pernikahan.

Tahapan berikutnya adalah narosan, yaitu prosesi lamaran resmi yang dilakukan oleh keluarga calon mempelai laki-laki, dalam acara ini pihak laki-laki datang untuk menyampaikan pinangan secara langsung kepada keluarga perempuan. 

Sebagai simbol kesungguhan, keluarga laki-laki membawa sirih pinang atau yang dikenal dengan istilah nyeureuhan, penyerahan ini menjadi lambang ikatan awal antara kedua belah pihak.

Selain itu calon mempelai laki-laki juga membawa sepasang cincin sebagai tanda pertunangan, beserta berbagai seserahan yang telah dipersiapkan. 

Dalam adat Sunda juga dikenal adanya panyangcang, yaitu sejumlah uang pengikat yang diberikan sebagai simbol keseriusan dan tanggung jawab calon mempelai laki-laki kepada pihak perempuan, nilainya biasanya sekitar 1/10 dari total uang yang nantinya akan diberikan menjelang pernikahan.

BACA JUGA:Tips Memilih Kotak Makan Anak Sekolah yang Aman dan Nyaman Dipakai Sehari-hari

Prosesi lamaran juga diisi dengan penyerahan seserahan secara simbolis atau disebut nyanggakeun, isi seserahan umumnya berupa kebutuhan calon mempelai perempuan sebagai bentuk perhatian, penghormatan, dan harapan agar kehidupan rumah tangga yang akan dibangun kelak dipenuhi kebahagiaan, keharmonisan, dan keberkahan.

Melalui setiap tahapan tersebut, adat lamaran Sunda mengajarkan bahwa sebuah pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan, tetapi juga mempererat hubungan dua keluarga besar. 

Kategori :