Stevia, Kolaborasi Kemendes PDT–Kopassus, dan Penguatan Ekonomi Desa
Oleh: Prof. Dr. Ir. H. Abdul Hamid, M.P.
Peneliti Utama BRIN/BRIDA Jawa Timur
Kepakaran Kebijakan Publik Bidang Lingkungan, Pertanian dan Kehutanan
Putra Daerah Bengkulu
BENGKULU, RBTVCamkoha.com - Pembangunan desa jangan berhenti pada pembangunan fisik. Infrastruktur harus menjadi jalan menuju peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.
BACA JUGA:Atasi Karhutla di Seluma, Yon TP 891/Maharaja Sakti Siagakan 2 Unit Armada Damkar
Karena itu, saya menyambut positif kolaborasi Menteri Desa dan PDT Yandri Susanto bersama Panglima Kopassus Letjen TNI Djon Afriandi untuk pembangunan desa di Bengkulu. Program Karya Bakti yang direncanakan mulai Oktober 2026 diharapkan tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga memperkuat ekonomi masyarakat.
Sebagai putra daerah Bengkulu, saya melihat momentum ini sangat strategis. Setelah jalan dan fasilitas dasar dibangun, desa harus memiliki komoditas unggulan, pasar yang pasti, dan industri pengolahan.
BACA JUGA:Aksi Balap Liar di Seluma, 38 Unit Sepeda Motor dan Puluhan Remaja Diamankan
Stevia: Pertanian Bernilai Tambah
Salah satu komoditas yang layak dikaji adalah stevia (Stevia rebaudiana Bertoni). Daunnya mengandung steviol glycosides, terutama steviosida dan rebaudiosida, yang menghasilkan rasa manis jauh lebih kuat dibandingkan sukrosa.
BACA JUGA:Daftar Harga Laptop Bekas September 2026, Ada yang Rp 2 Jutaan?
Steviol glikosida dapat diekstraksi dan dimurnikan menjadi pemanis berintensitas tinggi dengan kalori sangat rendah. Karena itu, stevia berpotensi menjadi alternatif pemanis, terutama bagi masyarakat yang perlu membatasi konsumsi gula. Stevia bukan obat diabetes, tetapi dapat menjadi bagian dari pilihan pola konsumsi yang lebih sehat.
Jangan Menanam Sebelum Ada Pasar