BACA JUGA:Gadis 15 Tahun di Lebong Diduga Disetubuhi 2 Pria Hingga Melahirkan dan Saat Ini Hamil Lagi 7 Bulan
Prinsipnya sederhana:
PASAR → OFFTAKER → KONTRAK → BIBIT → PETANI → PRODUKSI → INDUSTRI.
Petani jangan dibiarkan menanam lebih dahulu lalu kebingungan mencari pembeli.
Model yang saya tawarkan adalah kemitraan inti-plasma. Industri/pengusaha menjadi inti yang memberikan teknologi, bibit, pendampingan, standar kualitas dan jaminan pembelian. Petani menjadi plasma. Koperasi atau BUM Desa menjadi agregator hasil.
BACA JUGA:38 Sekolah di Kaur Direvitalisasi, Bupati Gusril Pausi Tandai Titik Nol di Muara Sahung
Ekosistemnya:
PETANI + KOPERASI/BUM DESA + PENGUSAHA + INDUSTRI + PEMERINTAH + BRIN/BRIDA + UNIVERSITAS BENGKULU.
BRIN/BRIDA dan Universitas Bengkulu
Pengembangan stevia harus berbasis riset. BRIN/BRIDA bersama Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu dapat melakukan kajian kesesuaian lahan, teknologi budidaya, produktivitas, pascapanen, kelayakan ekonomi, kualitas produk, hingga model bisnis dan kebijakan.
BACA JUGA:Aksi Balap Liar di Seluma, 38 Unit Sepeda Motor dan Puluhan Remaja Diamankan
Dengan demikian, stevia bukan sekadar proyek menanam tanaman baru, tetapi menjadi model pertanian desa berbasis ilmu pengetahuan, teknologi dan pasar.
Gambaran Usahatani
Sebagai simulasi awal, produksi 7 ton daun kering/ha/tahun dengan harga Rp40.000/kg menghasilkan omzet sekitar:
7.000 kg × Rp40.000 = Rp280 juta/ha/tahun.
BACA JUGA:Loker Terbaru PT Pegadaian 2026, Masih Ada Waktu 2 Hari untuk Mendaftar