BACA JUGA:DC Lapangan Pinjol SPinjam Datangi Nasabah Galbay, Ini Gambaran Prosesnya
Dari Wedding Organizer Jadi Pengusaha: Proses yang Butuh Obsesi, Bukan Sekadar Motivasi
Timothy membagikan kisah pribadinya saat ia masih jadi WO (wedding organizer) yang harus menghitung tamu satu-satu, bahkan dimarahin karena salah kasih souvenir.
Sementara tamu-tamu datang naik mobil sport dan bawa pasangan cantik. Dari situ ia mulai bertanya dalam hati, “Kok hidup aku begini ya? Kenapa dia bisa begitu?”
Rasa penasaran itu yang jadi bahan bakar utama dia untuk terus belajar. Setiap malam ia tidak bisa tidur, bukan karena insomnia, tapi karena sibuk cari tahu, cara menghasilkan uang, cara investasi, dan cara memperbanyak income.
Ia bahkan membaca daftar Forbes Billionaires dan mempelajari satu per satu profil orang-orang terkaya di dunia.
BACA JUGA:Tinggal 2 Desa di Kaur Belum Ajukan Pencairan DD Tahap 1, Kenapa?
Jangan Nyinyir, Fokus Cari Solusi!
Hal terakhir yang penting adalah jangan jadi orang yang cuma bisa nyinyir dan mencari alasan untuk menjatuhkan orang lain.
Misalnya bilang, “Ah dia mah anak orang kaya,” atau “Ah bisnisnya haram tuh.” Sering kali, itu cuma tameng untuk menutupi kemalasan kita sendiri.
Kalau kamu benar-benar ingin berubah, berhenti melihat hidup orang lain sebagai hal yang tidak adil. Mulailah bertanya pada diri sendiri, yakni apa yang bisa aku ubah hari ini supaya 5 tahun ke depan hidup aku jauh lebih baik?
BACA JUGA:Gen Z Wajib Tahu! 3 Kesalahan Fatal yang Harus Kamu Sadari Sekarang Sebelum Karirmu Hancur Sendiri
Energi Emosi Jangan Disia-siakan
Salah satu bagian paling menggugah dari video ini adalah ketika ia bicara soal emosi. “Belajarlah harness emosi. Emosi itu energi paling kuat di alam semesta.”
Banyak anak muda yang tersesat setelah diputusin pacar malah kebut-kebutan, bikin konten galau, bahkan mabuk-mabukan. “Kenapa emosi itu tidak dipakai buat belajar? Buat kerja? Buat buktiin diri kamu bisa lebih hebat?”
Dirinya mengajak untuk marah tapi marah yang produktif. “Marah lah sama diri kamu sendiri. Kenapa nyokap kamu masih kerja? Kenapa kamu masih jadi beban keluarga? Kenapa kamu masih main game padahal miskin?”