Perlu pembatasan yang tegas jika barang yang dibelanjakan sekadar sebagai pemenuh keinginan bukan kebutuhan. Kesenangan sesaat ini bisa menumpuk hutang.
Masalah ini akhirnya dapat mengganggu siklus keuangan dan menimbulkan hutang yang tidak perlu.
Ingin Menggunakan Paylater?
Berikut ini adalah beberapa tips yang dapat Anda terapkan sebelum mengaktifkan Paylater
BACA JUGA:Rupiah Cepat Punya DC Lapangan? Coba Cek di Sini Jawabannya
1. Pahami Skema Pembayaran Paylater dan Bunganya
Sebelum menggunakan Paylater sangat penting memahami skema pembayaran paylater. Antara lain jumlah cicilan yang wajib dibayarkan beserta besaran bunganya. Setiap penyedia paylater memiliki skema tersendiri pada layanannya.
Misalnya, sebagian penyedia layanan menetapkan tanggal jatuh tempo pada tanggal 15 setiap bulannya, serta membebankan bunga sebesar 1,5% dan biaya transaksi 1% dari nilai transaksi.
Selain itu, hampir semua penyedia paylater mengenakan denda, jika pengguna terlambat membayar tagihannya.
Maka dari itu, sebelum menggunakan fasilitas paylater, Mindset yang perlu diterapkan adalah setiap kali menggunakan paylater sama dengan berutang.
2. Sertakan Penggunaan Paylater dalam Perhitungan Rasio Utang
Apapun sebutannya, paylater merupakan salah satu bentuk utang. Oleh karenanya, Anda harus memasukkan jumlah penggunaannya ke dalam rasio utang.
Dalam rumus perencanaan keuangan, jumlah rasio utang yang ideal berada di bawah 30% dari pendapatan per bulan.
Sebagai contoh, apabila penghasilan Anda per bulan sebesar Rp30 juta, artinya besaran utang Anda, termasuk dengan penggunaan paylater, sebaiknya tidak lebih dari Rp9 juta.
Walau persentasenya bukan merupakan angka mutlak yang wajib diikuti, secara garis besar rumusan ini bisa membantu Anda memastikan pendapatan bulanan tidak habis hanya untuk melunasi utang-utang yang sebenarnya tidak perlu.