Pasalnya, gangguan kecemasan juga bisa memiliki gejala yang sama. Bahkan, bisa jadi sahabat Camkoha ternyata cuma stres biasa.
BACA JUGA:NDX AKA Bakal Hibur Warga Bengkulu di HUT RB ke-24, Beli Tiket Bisa Online
2. Jadi Stres Sendiri
Karena hanya berbekal artikel di internet tanpa konsultasi ke dokter atau psikiater, self diagnosis akhirnya bisa membuat stres berat. Bagaimana tidak, semakin banyak membaca, sepertinya semakin berat saja penyakit yang mungkin di derita.
Misalnya, bagaimana kalau sahabat Camkoha terkena kanker, sementara mungkin kuliah belum selesai? Bagaimana kalau ternyata penyakit tersebut tidak bisa disembuhkan sementara masih muda?
3. Perilaku Bisa Berubah
Stres berat akibat melakukan self diagnosis pada akhirnya juga bisa berpengaruh pada perilaku sendiri.
Sahabat Camkoha bisa saja melampiaskan stres dengan cara marah-marah, mabuk-mabukan, merokok, makan berlebihan, dan lain-lain. Tentu saja perilaku ini bisa berdampak buruk, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
BACA JUGA:Program MBG Jadi Salah Satu Langkah Lawan Stunting di Bengkulu
4. Salah Penanganan
Melakukan self diagnosis juga dapat mendorong sahabat Camkoha untuk berusaha mengobati diri sendiri. Bisa dengan membeli obat tanpa resep dokter, mencoba berbagai jenis obat bebas di apotek, atau pengobatan alternatif.
5. Salah Minum Obat
Ketika sahabat Camkoha mulai berinisiatif untuk membeli obat sendiri, bagaimana dengan dosisnya atau berapa lama obat itu harus diminum? Apakah obat itu bisa diminum bersama obat lain?
Semua detail terkait konsumsi obat ini tidak diketahui, karena tidak konsultasi dengan dokter. Akibatnya, keputusan self diagnosis ini bisa berisiko salah minum obat. Memutuskan minum obat berdasarkan info dari internet juga terkadang bisa menyesatkan.
Pasalnya, dokterlah yang sebenarnya tahu jenis dan dosis obat yang paling sesuai dengan gejala serta kondisi kesehatan kita.
Semoga informasi ini bermanfaat, ya!
BACA JUGA: Komisi II DPRD Kota Bengkulu Sidak Dinas Perkim, Rodi: 'Besar Pasak daripada Tiang'
Putri Nurhidayati