Warisan Leluhur,
Ngumbah Keris di malam satu suro--
Di bulan Suro inilah waktu yang dianggap paling baik untuk melakukannya, karena dipercaya sebagai momen transisi spiritual.
Hal ini pun berkaitan erat dengan sejarah peradaban Mataram dan penyatuan kalender Jawa (Saka) dan kalender Hijriah oleh Sultan Agung.
Maka tidak heran, prosesi penjamasan pusaka ini sarat akan makna budaya dan spiritualitas tinggi.
BACA JUGA:Setelah 20 Tahun Mengabdi, Suhairi Akhirnya Dilantik Walikota Bengkulu Jadi PPPK
Makna Energi dan Penyucian yang Lebih Dalam
Ramuan yang digunakan dalam jamasan bukan ramuan biasa. Campuran bunga dan air ini diyakini merupakan warisan turun-temurun dari leluhur, yang tidak hanya menghasilkan aroma wangi, tetapi juga memancarkan energi positif.
Seperti dijelaskan dalam video, ada mantra dan doa khusus yang dibacakan oleh suhu atau spiritualis, untuk menyalurkan energi baik ke dalam pusaka yang sedang dijamas.
Setelah proses pencucian selesai, pusaka akan diangin-anginkan dan dibersihkan menggunakan kain berwarna putih sebagai lambang kesucian.
Putih dipilih karena secara filosofi, warna ini merepresentasikan kemurnian jiwa dan penyucian total terhadap energi negatif yang mungkin melekat pada pusaka tersebut.
BACA JUGA:Tahap 2 Dugaan Korupsi Tukin Prajurit dan TPPU, Kasi Penkum Kejati Bengkulu: Tinggal Sidang
Tidak Hanya Sekadar Ritual Mistis, Tapi Pelestarian Budaya
Sayangnya, tak sedikit yang masih memandang prosesi jamasan pusaka sebagai sesuatu yang negatif atau mistis.
Padahal, inti dari ritual ini bukanlah hal-hal berbau klenik, melainkan sebagai bentuk pelestarian budaya leluhur.
Melalui prosesi ini, msyrkat diajak untuk kembali menghargai tradisi, menyucikan benda pusaka yang dianggap sebagai warisan spiritual, dan menjaga keseimbangan antara dunia fisik dan dunia spiritual.
Selain itu, jamasan pusaka tidak hanya terbatas dilakukan pada bulan Suro. Jika pemilik merasa bahwa pusakanya perlu dibersihkan dari energi negatif, maka ritual ini bisa dilakukan kapan saja.
Namun tetap saja, bulan Suro dianggap sebagai waktu paling utama dan penuh muatan spiritual.
BACA JUGA: Cerita UMKM Madu Lokal, Sukses Naik Kelas dan Tembus Pasar Global Berkat Dukungan BRI
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


