Karnaval batik
Iklan RBTV

Azan Jumat Perdana di Balai Raya Semarak Bengkulu

Azan Jumat Perdana di Balai Raya Semarak Bengkulu

Azan Jumat perdana di Balai Raya Semarak Bengkulu --

Dari Angker Menjadi Adem

Para jamaah yang hadir merasakan kebahagiaan yang tak tersembunyikan. Ruang yang dulu terasa sepi, pengap, dan penuh bayang-bayang ketelantaran, kini berubah menjadi adem. Lantainya empuk. Udaranya sejuk. Kekhusyukan tak terganggu oleh suara bising kendaraan atau ingar-bingar protokol.

BACA JUGA:LinkUMKM BRI Dorong Perempuan Pengusaha Fesyen Naik Kelas, Olah Wastra Nusantara Jadi Busana Modern

Banyak yang tak menyangka bahwa gedung yang lama dianggap "angker" bisa disulap menjadi tempat ibadah yang indah, terang, dan menenangkan hati. Seorang pegawai senior yang telah bekerja di lingkungan balai berbisik, "Dulu saya takut masuk ke sini kalau sore. Sekarang justru saya cari waktu luang untuk salat sunnah di sini."

Transformasi ini pun langsung diuji fungsinya. Pada Kamis lalu, ruang yang sama telah digunakan untuk pelepasan Jamaah Retret Angkatan ke-15 bagi ASN Provinsi Bengkulu, dengan pembekalan langsung oleh Gubernur. Dan pada hari Ahad mendatang, pembekalan lanjutan akan kembali digelar di tempat yang sama. Masjid Manar Al Hidayah dirancang bukan hanya sebagai tempat shalat, tetapi juga sebagai pusat pembinaan karakter aparatur.

BACA JUGA:Syarat dan Tahapan Lengkap Pengajuan BNI Fleksi Rp 100 Juta Tahun 2026

Catatan Sejarah yang Berkelanjutan

Catatan Jumat perdana di Balai Semarak bukan sekadar laporan kegiatan pemerintahan. Ia adalah tonggak sejarah yang menghubungkan masa kolonial, era kemerdekaan, dan kepemimpinan kontemporer dalam satu narasi keberkahan.

Di bawah naungan Gubernur Helmi Hasan, gedung yang pernah bisu kini kembali bersuara—bukan dengan lonceng kolonial atau sirine protokoler, tetapi dengan azan, khutbah, dan doa yang membahana.

BACA JUGA:Ajukan Kredit BNI Fleksi Rp 50 dan Rp 100 Juta, Ini Ciri-ciri Pengajuan Disetujui

Masjid Manar Al Hidayah berdiri sebagai bukti nyata bahwa efisiensi kebijakan dan spiritualitas dapat berjalan beriringan. Bahwa perubahan besar sering kali bermula dari niat sederhana yang dijalankan dengan ikhlas. Dan bahwa sejarah tidak selalu ditulis dengan tinta emas di atas kertas—kadang, ia ditulis dengan suara muazin yang pertama kali berkumandang di tempat yang dulu tak pernah mengenalnya.

Semoga masjid ini menjadi mercusuar hidayah, tempat berlindung dari kepenatan dunia, dan saksi bisu bahwa kebaikan, sekecil apa pun, jika diniatkan karena Allah, akan membentang menjadi sungai keberkahan yang panjang. (Saeed Kamyabi)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait