Iklan RBTV

Harga Kelapa Naik, Selain Bahagia Petani juga Cemas, Ini Penyebabnya

Harga Kelapa Naik, Selain Bahagia Petani juga Cemas, Ini Penyebabnya

Walaupun bahagia karena harga kelapa naik, para petani ternyata juga cemas--

NASIONAL, RBTVDISWAY.ID – Dalam beberapa minggu terakhir, harga kelapa mengalami kenaikan.

Saat ini harga kelapa naik Rp 6.400–6.800 per kilogram. Tentu saja kenaikan harga ini disambut bahagia petani. Namun tidak hanya bahagia, para petani kelapa sekarang juga dilanda kecemasan. 

Penyebabnya lantaran ada usulan moratorium ekspor kelapa selama enam bulan. Usulan ini langsung ditolak Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia (PERPEKINDO).

Ketua PERPEKINDO, Muhaemin Tallo, mengatakan kenaikan harga kelapa merupakan bentuk keadilan bagi petani yang telah puluhan tahun terpuruk akibat rendahnya harga komoditas tersebut.

"Sejak era 1990-an, minyak kelapa perlahan tergantikan oleh minyak sawit. Harga kelapa anjlok dan bertahan di Rp1.000–Rp1.500/kg selama lebih dari 10 tahun. Pemerintah dan industri diam saja saat petani kelapa menjerit. Kini ketika harga membaik, tiba-tiba semua panik," kata Muhaemin.

BACA JUGA:Belanja Hemat Akhir Bulan, Ini Daftar Promo Alfamart Terbaru 2025

Selain itu PERPEKINDO mencatat lonjakan harga kelapa saat ini telah memicu semangat petani untuk melakukan replanting atau penanaman ulang di berbagai daerah. 

Hal ini dinilai sebagai momentum penting untuk mengembalikan kejayaan kelapa Indonesia yang sempat meredup.

Muhaemin menyampaikan, berdasarkan data Kementerian Pertanian menunjukkan, luas areal tanam kelapa terus menurun, dari 3,9 juta hektar pada 1990 menjadi hanya 3,2 juta hektar pada 2024.

Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh harga kelapa yang tidak menguntungkan, sehingga banyak petani memilih mengalihkan lahannya menjadi perkebunan sawit atau tambang, terutama di wilayah Maluku, Sulawesi, dan Sumatera. 

BACA JUGA:Harga TBS Kelapa Sawit di Riau Turun Tipis Akhir April 2025, Ini Daftar Lengkap Harga Berdasarkan Umur Pohon

Data PERPEKINDO mencatat, sekitar 6 juta kepala keluarga menggantungkan hidup dari sektor kelapa, dengan total lebih dari 18 juta jiwa termasuk anak-anak dan pekerja pendukung seperti tukang panjat dan pengupas kelapa.

"Terdapat sekitar 6 juta kepala keluarga petani kelapa di Indonesia. Jika dihitung dengan tanggungan keluarga (rata-rata 2 anak per petani), ada 18 juta jiwa yang bergantung pada sektor ini. Belum termasuk tukang panjat dan tukang kupas kelapa," jelasnya.

Karenanya PERPEKINDO menegaskan ekspor kelapa justru menjadi insentif penting bagi petani untuk merawat dan memperbaharui kebun mereka. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: