Menyambut Ramadan, Ini Beragam Tradisi Khas di Jawa Tengah
Tradisi Dugderan - Semarang, Jawa Tengah--
Warak Ngendog, hewan mitologi yang merupakan simbol perpaduan budaya masyarakat Semarang. Bentuknya mencerminkan akulturasi tiga etnis yakni Jawa, Tionghoa, dan Arab.
BACA JUGA:Tabel KUR BSI Pinjaman Rp 50 Juta, Berapa Cicilan per Bulannya?
2. Tradisi Padusan - di Klaten dan Boyolali, Jawa Tengah
Tradisi menjelang puasa Ramadan bagi masyarakat Jawa yakni Padusan, yang dilakukan oleh masyarakat sekitar Klaten, Boyolali, Salatiga, bahkan Yogyakarta.
Sebagai informasi, Padusan adalah kegiatan berendam atau mandi di sumur maupun sumber mata air sebagai bentuk upacara. Biasanya, tradisi Padusan dilakukan di tempat yang keramat atau terhormat, itulah yang menjadi keunikan.
Tradisi Padusan dalam praktiknya, dilakukan dengan dua cara berbeda, yaitu secara adat dan secara personal oleh masyarakat umum. Meskipun demikian, keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu membersihkan diri secara lahir dan batin.
BACA JUGA:Seperti Ini Perbandingan Samsung Galaxy S22 vs Samsung Galaxy S22+, Cek yang Mana Lebih Unggul?
3. Tradisi Perlon Unggahan – Banyumas, Jawa Tengah
Sementara di wilayah Banyumas, Jawa Tengah, masyarakat masih menjaga tradisi Perlon Unggahan sebagai bagian dari persiapan menyambut Ramadan.
Jika mengacu pada informasi Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun dan umumnya dilakukan sekitar satu minggu sebelum bulan puasa dimulai.
Yang identik dari Perlon Unggahan adalah dengan kegiatan ziarah ke makam leluhur yang dilakukan tanpa alas kaki sambil membawa nasi ambeng.
Dalam perjalanan menuju lokasi ziarah sering ditempuh dengan berjalan kaki dalam jarak yang cukup jauh, sebagai simbol ketulusan dan penghormatan kepada para pendahulu.
BACA JUGA:Lagi Cari Moge Harga Rp 100 Jutaan? Ini Rekomendasinya
4. Tradisi Arwah Jamak- Demak, Jawa Tengah
Beda lagi dengan tradisi di Demak, masyarakat melaksanakan tradisi arwah jamak yang telah ada sejak masa Sunan Kalijaga.
Tradisi Arwah Jamak berfokus pada pembacaan doa untuk orang tua, sanak saudara, dan leluhur yang telah meninggal.
Dalam praktiknya, pembacaan doa dilakukan bersama-sama menjelang Ramadhan dan pada sepuluh hari terakhir di malam-malam ganjil Ramadhan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


