Iklan RBTV

Hutan Terbakar, Masa Depan Indonesia Ikut Terbakar

Hutan Terbakar, Masa Depan Indonesia Ikut Terbakar

Prof. Dr. Ir. H. Abdul Hamid, M.P.--

Asap mengganggu kesehatan. Aktivitas sekolah dan ekonomi dapat terganggu. Pertanian terkena dampak. Pariwisata menurun. Bahkan dalam skala besar, karhutla dapat memberikan tekanan ekonomi dan sosial yang jauh lebih mahal daripada biaya pemadamannya.

Karena itu, karhutla harus dipandang sebagai krisis ekologis sekaligus krisis kebijakan publik.

BACA JUGA:Apa Pentingnya Vitamin D Bagi Tubuh? Simak Penjelasannya Berikut

Indonesia tidak boleh hanya sibuk setelah api membesar

Paradigma penanganan karhutla harus kita ubah.

Selama ini perhatian terbesar sering muncul ketika api sudah membesar: mengerahkan personel, mobil pemadam, helikopter, water bombing, dan berbagai peralatan lainnya.

BACA JUGA:Eks Bendahara KPU Bengkulu Selatan Bayar Uang Pengganti dan Denda Rp 339 Juta

Semua itu penting.

Tetapi jauh lebih penting adalah mencegah api sebelum menjadi bencana besar.

Data pemerintah menunjukkan bahwa hingga Juli 2026 luas karhutla di Indonesia telah mencapai sekitar 202.004 hektare. Angka sebesar itu seharusnya membuat kita bertanya: apakah sistem pencegahan dan deteksi dini kita sudah cukup kuat?

BACA JUGA:Pemkot Bengkulu Lanjutkan Program Bedah Rumah, 58 Unit RTLH Jadi Sasaran Tahun Ini

Jawabannya menurut saya: belum.

Kita membutuhkan sistem yang mampu mendeteksi titik api sejak dini, memetakan arah penyebaran api, mengetahui kondisi vegetasi, memprediksi wilayah berisiko tinggi dan mengirimkan informasi secara cepat kepada petugas di lapangan.

Di sinilah teknologi menjadi penting.

Jawa Timur jangan merasa aman

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: