BENGKULU UTARA, RBTVCamkoha.com - Suasana haru dan khidmat menyelimuti Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Gunung Selan, Kecamatan Arga Makmur, Kabupaten Bengkulu Utara, pada hari kedua Idul Fitri 1447 Hijriah, Minggu (22/3/2026).
Ribuan warga memadati area pemakaman sejak pagi hari untuk mengikuti tradisi yasinan dan nyekar massal, sebuah tradisi turun-temurun yang telah berlangsung lebih dari 20 tahun dan rutin digelar setiap 2 Syawal.
Berbeda dari tahun sebelumnya, jumlah warga yang hadir tahun ini terlihat jauh lebih banyak. Momen mudik menjadi salah satu faktor utama meningkatnya partisipasi masyarakat, di mana para perantau turut kembali dan ambil bagian dalam tradisi tersebut.
BACA JUGA:Pelajar di Kepahiang Kecelakaan Motor, Begini Kondisinya
Kepala Desa Gunung Selan, Amir Hamzah, menyebut bahwa tradisi ini bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi ruang mempererat hubungan sosial antarwarga.
“Tradisi ini awalnya dipelopori oleh sesepuh desa. Tujuannya sederhana, untuk mempererat silaturahmi. Alhamdulillah, sampai sekarang tetap terjaga, bahkan semakin ramai karena banyak warga yang pulang kampung,” ujar Amir Hamzah.
Dalam pelaksanaannya, warga secara serentak membaca Surah Yasin dan tahlil di depan makam keluarga masing-masing. Tidak ada prosesi khusus dalam kegiatan ini, namun nuansa kebersamaan terasa begitu kuat.
Menariknya, tradisi ini diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Kehadiran generasi muda menjadi sinyal positif bahwa tradisi lokal ini terus diwariskan lintas generasi.
BACA JUGA:KUR Mandiri 2026 Pinjaman Rp 25 Juta, Ini Syarat dan Tabel Cicilan Terbaru
“Melalui yasinan dan ziarah massal ini, selain mendoakan keluarga yang telah wafat, kita juga mempererat rasa kekeluargaan. Ini yang ingin terus kami jaga,” tambahnya.
Dengan meningkatnya antusiasme masyarakat setiap tahun, tradisi nyekar massal di Gunung Selan tidak hanya menjadi agenda rutin keagamaan, tetapi juga telah menjelma sebagai bagian penting dari identitas budaya lokal yang sarat makna.
Momentum ini pun menjadi pengingat, bahwa Idul Fitri bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang merawat ingatan, memperkuat hubungan, dan menjaga warisan kebersamaan.
(Novan Alqadri)