BACA JUGA:Resmi OJK, 26 Daftar Pinjol Ini Tidak Memiliki Debt Collector Lapangan
Dalam makalah Gaume dan rekan penulis studinya, Alexander Puzrin, eorang peneliti di Institute for Geotechnical Engineering di Zurich, Swiss, berupaya menjawab setiap kritik ini.
Mereka mempelajari catatan dari insiden Dyatlov untuk menciptakan kembali kondisi lingkungan yang kemungkinan besar dihadapi para pendaki pada malam tersebut -- mereka bahkan meminta bantuan kepada animator untuk film Disney 'Frozen'.
Mereka membuat model longsoran digital untuk menguji apakah longsoran lempengan dapat terjadi dan masuk akal dalam kondisi tersebut.
Dalam studi mereka, pada peneliti mengetahui bahwa sudut kemiringan di dekat perkemahan para pendaki sebenarnya lebih curam daripada yang ditunjukkan pada laporan sebelumnya.
BACA JUGA:Slow tapi Pasti, Pemilik Shio Ini Diramalkan Kaya Raya saat Usia Tua
Hujan salju setelah insiden tersebut dapat memperhalus sudut tersebut yang membuat lereng tampak lebih kecil, serta dapat menutupi tanda-tanda longsoran salju, kata tim tersebut.
Terdapat luka tulang rusuk dan tengkorak retak di beberapa pendaki juga cedera yang lebih mirip akibat kecelakaan mobil ketimbang longsoran salju. Tim Gaume menjelaskan bahwa longsoran salju yang diduga terjadi pada malam ini bukan longsoran salju biasa.
Saat longsoran salju terjadi, para pendaki sedang berbaring telentang dalam tenda. "Simulasi longsoran dinamis menunjukkan bahwa bahkan lempengan yang relatif kecil dapat menyebabkan cedera dada dan tengkorak yang parah tetapi tidak mematikan, seperti yang dilaporkan oleh pemeriksaan post-mortem," tulis para peneliti.