TOPO LELONO

Minggu 27-09-2026,16:37 WIB
Reporter : Rendra aditya
Editor : ahmad afandi

BACA JUGA:Beli Token Listrik Rp 50 Ribu di September 2026, Dapat Berapa kWh?

Begitu pula kehidupan manusia. Zaman boleh semakin maju, teknologi semakin canggih, informasi semakin cepat — tetapi jangan sampai ilmu agama menjadi dangkal, iman menjadi dangkal, ibadah menjadi dangkal, dan kehidupan hanya mengejar apa yang tampak di permukaan.

Banyak orang mengetahui banyak hal tentang dunia, tetapi semakin sedikit waktu untuk mengenal Allah. Banyak yang mampu berbicara tentang kesuksesan, tetapi tidak sempat bertanya: untuk apa saya hidup?

BACA JUGA:Budget Rp 1 Jutaan Dapat HP Vivo Apa? Ini Rekomendasi Terbaik di September 2026

Ketika Pasar Kehilangan Gaungnya

“Yen pasar ilang kumandange.”

Pasar adalah simbol kehidupan masyarakat — tempat transaksi, pertemuan, kebutuhan, interaksi, dan kehidupan ekonomi.

Pesannya seakan mengingatkan bahwa dakwah tidak boleh hanya berada di tempat-tempat tertentu. Dakwah harus turun ke tengah kehidupan manusia: ke pasar, ke kampung, ke sekolah, ke kantor, ke kampus, ke rumah-rumah, ke tempat orang bekerja dan mencari nafkah.

BACA JUGA:Polemik SD Negeri 62 Bengkulu Terkini

Dai tidak cukup hanya menunggu manusia datang. Dai harus datang menemui manusia.

Ketika Rasa Malu Mulai Hilang

“Yen wong wadon ilang wirange.”

Wira’i atau wirang dalam tradisi Jawa berkaitan dengan rasa malu, kehormatan, dan kepantasan.

Ini bukan hanya berbicara tentang perempuan. Ia merupakan peringatan tentang hilangnya rasa malu sebagai penjaga moral masyarakat. Ketika dosa tidak lagi membuat seseorang malu, ketika keburukan justru dipertontonkan, ketika maksiat dianggap biasa — maka masyarakat membutuhkan dakwah yang lebih kuat: bukan dakwah yang hanya pandai mencela, melainkan dakwah yang menghidupkan kembali iman dan rasa takut kepada Allah.

BACA JUGA:Mau Gadai HP di Pegadaian? Ini Simulasi Perhitungannya

Lalu Apa yang Harus Dilakukan?

Kategori :