Di sinilah muncul kalimat yang sangat menarik:
“Enggal-enggal topo lelono.” — Segeralah melaksanakan topo lelono.
Jangan hanya mengeluh melihat kerusakan zaman. Jangan hanya berkata, “Zaman sekarang sudah berbeda.” Jangan hanya menyalahkan generasi muda.
Keluar. Bergerak. Datangi manusia.
“Njajah deso milangkori.” — Menjelajah desa demi desa, mengetuk pintu demi pintu.
BACA JUGA:Lowongan Kerja BUMN PT Sucofindo, Ini Posisi dan Persyaratannya
Inilah wajah dakwah yang hidup: bukan sekadar menunggu jamaah memenuhi masjid, melainkan mendatangi mereka yang belum datang. Mendatangi orang yang sibuk bekerja, anak-anak muda, sekolah, kampus, keluarga, dan mereka yang sedang jauh dari Allah.
Karena mungkin mereka bukan tidak membutuhkan agama — mereka hanya belum pernah didatangi dengan kasih sayang.
Jangan Cepat Pulang
“Ojo bali sakdurunge patang sasi.” — Jangan pulang sebelum empat bulan.
Empat bulan di sini bukan sekadar hitungan waktu. Ia menggambarkan kesungguhan sebuah perjalanan dakwah.
Dakwah tidak selalu menghasilkan perubahan dalam satu hari. Ada orang yang baru tersentuh setelah berkali-kali didatangi. Ada keluarga yang butuh waktu untuk berubah. Ada anak muda yang hari ini belum mau mendengar, tetapi beberapa bulan kemudian hatinya terbuka. Karena itu dakwah membutuhkan kesabaran, pengorbanan, dan ketulusan waktu.
BACA JUGA:Jadwal Indonesia Vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026, Duel Sengit Derby Serumpun
Yang Dicari: Petunjuk dari Tuhan
Bagian terakhir justru yang paling dalam:
“Entuk wisik soko Hyang Widi.” — Mendapatkan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa.