BACA JUGA:Rata-rata Nilai SNBP Tahun 2025 untuk Masuk Universitas Negeri Padang
Denda dan Aturan Terkait Bonceng Tiga
Mungkin Anda berpikir bahwa bonceng tiga hanyalah pelanggaran kecil. Namun, siapa sangka, aturan lalu lintas telah mengatur jelas larangan ini.
Berdasarkan Pasal 106 ayat (9) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, setiap pengendara motor tanpa kereta samping dilarang membawa lebih dari satu penumpang.
Jika nekat melanggar, siap-siap saja terkena sanksi denda maksimal sebesar Rp250.000 atau pidana kurungan maksimal satu bulan.
Meski jumlah denda tampak kecil, risiko keselamatan yang timbul jauh lebih besar daripada nilai tersebut.
Kenapa Aturan Ini Diterapkan?
Alasan utama dari larangan bonceng tiga ini adalah untuk memastikan keselamatan berkendara. Jalanan bukan tempat bermain-main dengan nyawa.
Meningkatnya jumlah kecelakaan akibat pelanggaran seperti bonceng tiga menjadi alasan kuat untuk menegakkan aturan ini.
BACA JUGA:7 Fakta Menarik Kabupaten Wonogiri yang Jarang Diketahui, Tertarik Berkunjung?
Efek Negatif Bonceng Tiga pada Pembonceng
Meskipun pengendara sering menjadi sorotan utama, sebenarnya pembonceng juga memiliki risiko besar.
Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jawa Tengah, Oke Desiyanto, mengungkapkan bahwa pembonceng sering mengalami cedera yang lebih parah dibandingkan pengendara saat terjadi kecelakaan.
Saat rem mendadak, misalnya, pembonceng yang tidak memegang hand grip dengan benar cenderung terdorong ke depan.
Hal ini membuat pengendara kesulitan mengontrol motor, yang justru memperbesar risiko kecelakaan. Oleh karena itu, baik pengendara maupun pembonceng wajib memahami aturan keamanan saat naik motor.
BACA JUGA:Angka Kemiskinan Bengkulu Turun, tapi Kok Tetap Termiskin Kedua di Sumatera?
Mengangkut Barang Juga Tidak Aman
Selain bonceng tiga, membawa barang berlebihan juga bisa berbahaya. Motor yang membawa beban berlebih rentan mengalami kendala teknis, seperti ban bocor atau rem blong.
Lebih dari itu, beban berat dapat membuat motor tidak stabil ketika bermanuver di jalan sempit atau menurun.
Contohnya, motor yang membawa barang dengan posisi tidak seimbang cenderung miring ke satu sisi, sehingga pengendara lebih sulit mengendalikan kendaraan. Beban tambahan juga mempercepat keausan pada mesin dan ban.