NASIONAL, RBTVDISWAY.ID- Fenomena baru yang mengkhawatirkan kembali terungkap di Jakarta. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaporkan bahwa air hujan di ibu kota kini mengandung pertiel mikroplastik, yakni serpihan plastik brukuran sangat kecil yang berasal dari berbagai aktivitas manusia.
Temuan ini memperlihatkan bahwa siklus plastik telah menembus hingga atmosfer dan kini kembali turun ke permukaan bumi melalui air hujan.
Menurut para peneliti BRIN, partikel mikroplastik dapat terangkat ke udara melalui debu jalanan, pembakaran sampah, hingga aktivitas industri.
Setelah terbawa oleh angin, partikel tersebut akan naik ke lapisan atmosfer dan kemudian turun bersama hujan sebuah proses yang dikenal dengan istilah “atmospheric microplastic deposition.”
Fenomena ini membuktikan bahwa polusi plastik tidak hanya mencemari lautan atau tanah, tapi juga sudah menjadi bagian dari udara yang kita hirup setiap hari.
BACA JUGA:Silakan Diambil Pinjaman KUR BRI Rp 100 Juta, Ini Ketentuan Syarat dan Angsuran per Bulannya
Lantas, pertanyaannya apakah partikel mikroplastik ini benar-benar bisa masuk ke paru-paru manusia?
Menurut dr. Agus Susanto, SpP(K), seorang spesialis paru, mikroplastik yang terbawa air hujan memang bisa menimbulkan risiko kesehatan yang serius.
Ia menjelaskan bahwa saat hujan turun, partikel-partikel ini akan mengendap di permukaan tanah, mencemari air, atau menempel pada sayuran dan bahan makanan lainnya.
Dalam kondisi seperti itu, mikroplastik dapat masuk ke tubuh manusia melalui proses tertelan, baik lewat makanan maupun minuman yang sudah terkontaminasi.
Namun, bahaya yang lebih besar muncul ketika air hujan menguap dan mikroplastik yang semula mengendap kembali mengering dan terbawa angin. Dalam bentuk debu halus, partikel ini bisa melayang di udara dan akhirnya terhirup oleh manusia, masuk melalui saluran pernapasan, bahkan mencapai jaringan paru-paru.
“Setiap orang berisiko jika menghirup mikroplastik, terutama mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu seperti asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), penyakit jantung, atau diabetes,” jelas dr. Agus melansir dari detikcom.
BACA JUGA:iQOO Segera Luncurkan Neo 11 ke Pasar, Begini Bocoran Spesifikasinya
Ia menambahkan bahwa efek jangka panjang dari paparan mikroplastik di paru-paru masih terus diteliti, tetapi beberapa studi menunjukkan potensi peradangan kronis dan gangguan fungsi paru.
Untuk mengurangi risiko paparan mikroplastik di udara, dr. Agus menekankan empat langkah pencegahan sederhana namun penting, yaitu: