RA Kartini menggugat praktik poligami, karena ia menganggap hal itu merendahkan martabat perempuan, mengkritik sistem pendidikan kolonial yang diskriminatif, dan menyuarakan pentingnya bangsa Indonesia (saat itu Hindia Belanda) untuk mengejar ketertinggalan melalui ilmu pengetahuan.
Jadi, diplomasi pena tersebut membuktikan meskipun tubuhnya terkurung, pikirannya melanglang buana hingga ke jantung pemikiran Eropa, menjadikannya salah satu pemikir feminis gelombang pertama di Asia.
BACA JUGA:Gubernur Helmi Hasan: Event Karnaval Batik Internasional Bangkitkan Ekonomi
Karya-karya RA Kartini
Melansir dari buku berjudul Kartini: Kumpulan Surat-surat 1899-1904 Jilid I oleh Wardiman Djojonegoro, menyebutkan bahwa terdapat kurang lebih 400 surat yang ditulis oleh RA Kartini. Namun, hanya 179 surat saja yang berhasil dikumpulkan.
Surat-surat tersebut kemudian dibukukan dan diterbitkan dalam banyak versi, salah satunya "Habis Gelap Terbitlah Terang"
Adapun secara umum surat-surat tersebut berisi mengenai:
- Kehidupan RA Kartini
- Pemikiran RA Kartini
- Cita-cita RA Kartini
- Perjuangan RA Kartini untuk mewujudkan keadilan kaumnya
- Perasaan cinta dan kepedulian Kartini; dan lain sebagainya
BACA JUGA:Karena Karnaval Batik Internasional yang Digelar Pemkot Bengkulu, Omzet Pedagang Bertambah Banyak
Jasa RA Kartini untuk Perempuan Indonesia
Berikut ini adalah jasa RA Kartini terhadap Indonesia:
1. Mendirikan sekolah perempuan
2. Memperjuangkan emansipasi perempuan
3. Mengubah perspektif tentang perempuan
BACA JUGA:Pelantikan Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bengkulu Periode 2026-2027
Wafatnya RA Kartini