Massuro atau lamaran adalah keluarga dari pihak laki-laki mengutus seseorang yang paling dipercayai sebagai mabbaja laleng atau perintis jalan.
Namun, juru bicara yang ditunjuk haruslah memiliki kemampuan yang tinggi dalam hal negosiasi, mengingat acara pertemuan antar kedua keluarga ini juga akan membahas tentang besaran jumlah uang panai. Biasanya terdapat proses 'tawar-menawar' dengan bahasa Bugis yang sangat halus.
BACA JUGA:Penyebab Umum Kulkas Mendadak Mati dan 8 Cara Mengatasinya
4. Mappettu Ada
Setelah lamaran dilakukan, saatnya untuk menentukan tanra esso atau tanggal pelaksanaan pernikahan, sompa (mahar), dan doi menre (uang belanja).
Tanggal pernikahan biasanya akan ditentukan oleh keluarga dari calon pengantin wanita dengan mempertimbangkan waktu-waktu terbaik.
Sementara doi menre adalah uang belanja yang akan diberikan oleh calon mempelai pria kepada calon mempelai wanitanya untuk keperluan biaya pesta pernikahan.
Sama seperti uang panai, besaran nominal doi menre juga tergantung pada strata sosial perempuan, jenjang pendidikannya, hingga citra keluarga mempelai di lingkungan masyarakat setempat.
Mahar untuk wanita keturunan Bugis dapat berupa uang atau benda sebagai syarat sah pernikahan. Pada tahap mappettu ada juga dilakukan pemberian hantaran berupa perhiasan untuk calon mempelai perempuan.
5. Mappasau Botting
Selanjutnya ritual perawatan atau mappasau botting adalah yang dilakukan secara privat oleh calon mempelai wanita sebelum hari pernikahannya.
Tradisi ini umumnya memakan waktu hingga tiga hari berturut-turut sampai tibanya hari H. Nantinya, calon pengantin wanita akan 'dibersihkan' dengan menggunakan ramuan daun pandan yang masih mengeluarkan uap panas.
Tujuannya adalah untuk mengeluarkan seluruh keringat yang tidak baik dari tubuh calon pengantin perempuan.
Secara simbolis, daun pandan diartikan sebagai bentuk pengharuman dan keharmonisan biduk rumah tangga. Acara kemudian dilanjut dengan pemakaian bedak hitam yang terdiri dari jeruk nipis dan asam jawa. Hal ini bertujuan agar kulit calon mempelai wanita terlihat bersih dan bercahaya.
6. Mappanre Temme
Dalam bahasa Bugis, mappanre berarti memberi makan, sementara temme adalah tamat. Tradisi mappanre temme ini berhubungan langsung dengan orang yang tamat mengaji atau khataman Al-Qur'an.