Karena itu, karhutla harus dipandang sebagai krisis ekologis sekaligus krisis kebijakan publik.
BACA JUGA:Apa Pentingnya Vitamin D Bagi Tubuh? Simak Penjelasannya Berikut
Indonesia tidak boleh hanya sibuk setelah api membesar
Paradigma penanganan karhutla harus kita ubah.
Selama ini perhatian terbesar sering muncul ketika api sudah membesar: mengerahkan personel, mobil pemadam, helikopter, water bombing, dan berbagai peralatan lainnya.
BACA JUGA:Eks Bendahara KPU Bengkulu Selatan Bayar Uang Pengganti dan Denda Rp 339 Juta
Semua itu penting.
Tetapi jauh lebih penting adalah mencegah api sebelum menjadi bencana besar.
Data pemerintah menunjukkan bahwa hingga Juli 2026 luas karhutla di Indonesia telah mencapai sekitar 202.004 hektare. Angka sebesar itu seharusnya membuat kita bertanya: apakah sistem pencegahan dan deteksi dini kita sudah cukup kuat?
BACA JUGA:Pemkot Bengkulu Lanjutkan Program Bedah Rumah, 58 Unit RTLH Jadi Sasaran Tahun Ini
Jawabannya menurut saya: belum.
Kita membutuhkan sistem yang mampu mendeteksi titik api sejak dini, memetakan arah penyebaran api, mengetahui kondisi vegetasi, memprediksi wilayah berisiko tinggi dan mengirimkan informasi secara cepat kepada petugas di lapangan.
Di sinilah teknologi menjadi penting.
Jawa Timur jangan merasa aman
Karhutla bukan hanya persoalan Sumatera dan Kalimantan.
Jawa Timur pun menghadapi ancaman serius.