Berapa nilai air yang hilang?
Berapa nilai karbon yang dilepaskan?
Berapa nilai keanekaragaman hayati yang musnah?
Berapa biaya kesehatan masyarakat akibat asap?
Berapa lama petani dan masyarakat sekitar harus menanggung dampaknya?
Dan yang paling penting:
Berapa lama anak cucu kita harus menunggu sampai hutan itu kembali seperti semula?
BACA JUGA:Sejarah Lomba Balap Kelereng, Permainan Sederhana yang Selalu Ada Setiap 17 Agustus
Inilah alasan mengapa karhutla tidak boleh diperlakukan sebagai bencana tahunan yang kemudian dilupakan setelah hujan turun.
Kita membutuhkan keberanian untuk mengubah kebijakan:
dari respons menjadi pencegahan,
dari pemadaman menjadi mitigasi,
dari eksploitasi menjadi restorasi,
dan dari sekadar menghitung hektare terbakar menjadi menghitung masa depan yang hilang.
Indonesia memiliki teknologi.
Indonesia memiliki para ahli.