Geger!!! Nelayan Temukan Harta Karun Rp 270 Miliar di Perairan Cirebon
Nelayan di perairan Cirebon pernah menemukan harta karun bernilai ratusan miliar--
Sekitar 271 ribu artefak dari Tiongkok yang berasal dari masa Dinasti Liao di abad ke-11 seperti keramik-keramik, kristal, permata dan emas berhasil diangkat.
Menurut laporan resmi, nilai keseluruhan temuan diperkirakan mencapai Rp 720 miliar dan disebut sebagai penemuan harta karun terbesar Asia Tenggara.
Setelah lebih dari dua dekade berlalu, Chaidir S. Susilaningrat yang merupakan pemerhati kebudayaan Cirebon masih ingat betul momen itu.
“Yang saya ingat ya, karena itu kejadian tahun 2003, saat itu saya masih tugas di Pemkab Cirebon dan waktu itu memang ramai ada penemuan harta karun dari kapal yang tenggelam di perairan Cirebon,” kenang Chaidir.
“Itu dari abad ke-11, itu katanya pada masa Dinasti Liao di Tiongkok. Yang ditemukan itu macam-macam, ada keramik, rubi, sampai permata. Nilainya ratusan miliar,” sambungnya.
BACA JUGA:Dapatkan Bonus Saldo DANA hingga Rp400 Ribu dari Aplikasi Musik Ini, Pasti Cuan
Menariknya kata Chaidir, penemuan itu berawal dari sesuatu yang tak disengaja. Namun sayangnya kata dia, tidak ada yang tahu siapa sosok nelayan yang pertama kali menemukan harta karun tersebut.
“Saya juga bertanya-tanya, nelayan yang menemukan dapat apa? Tapi tidak tahu identitasnya, saya pikir nelayan itu berjasa memberikan petunjuk awal,” katanya.
Bagi Chaidir, temuan 2003 itu hanya permukaan dari sejarah panjang jalur laut di wilayah Cirebon. Sebagai pegiat sejarah dan budaya, ia telah lama tertarik mempelajari jejak-jejak kapal tenggelam di wilayahnya.
“Memang kemudian saya mempelajari, karena saya hobi mempelajari sejarah Cirebon, ternyata di perairan Cirebon itu ratusan kapal yang tenggelam, tidak hanya puluhan tapi ratusan,” ungkapnya.
Mengapa begitu banyak kapal karam di laut Cirebon? Chaidir tak bisa menjawab pasti. Namun kemungkinan besar, kapal-kapal itu karam karena terlibat peperangan.
“Saya juga nggak ngerti kenapa ratusan kapal tenggelam di situ. Apakah karena pertempuran? Kalah karena gelombang laut? Rasanya tidak mungkin, karena Pantai Utara gelombangnya relatif lebih kecil dari pantai selatan,” terangnya.
Pertanyaan-pertanyaan itu, menurutnya, hingga kini masih dikaji oleh banyak pihak, termasuk dari luar negeri. Bahkan, kata Chaidir, sempat ada rencana besar.
“Sampai hari ini kapal-kapal yang tenggelam di Cirebon masih jadi kajian dari berbagai pihak. Terakhir ada kunjungan dari Tiongkok yang merencanakan akan mengangkat salah satu kapal, dijadikan tempat wisata. Ini masih wacana ya, dan pernah dilakukan pemerintah Tiongkok kalau nggak salah di Vietnam,” tutur Chaidir.
Bagi masyarakat Cirebon, kata Chaidir, temuan-temuan seperti ini menjadi penting. Bukan sekadar untuk kepentingan sejarah, tapi juga sebagai potensi wisata budaya dan edukasi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


