TOPO LELONO
TOPO LELONO--Foto:ist
“Yen kali ilang kedunge.”
Sungai yang kehilangan kedalaman menjadi dangkal.
BACA JUGA:Beli Token Listrik Rp 50 Ribu di September 2026, Dapat Berapa kWh?
Begitu pula kehidupan manusia. Zaman boleh semakin maju, teknologi semakin canggih, informasi semakin cepat — tetapi jangan sampai ilmu agama menjadi dangkal, iman menjadi dangkal, ibadah menjadi dangkal, dan kehidupan hanya mengejar apa yang tampak di permukaan.
Banyak orang mengetahui banyak hal tentang dunia, tetapi semakin sedikit waktu untuk mengenal Allah. Banyak yang mampu berbicara tentang kesuksesan, tetapi tidak sempat bertanya: untuk apa saya hidup?
BACA JUGA:Budget Rp 1 Jutaan Dapat HP Vivo Apa? Ini Rekomendasi Terbaik di September 2026
Ketika Pasar Kehilangan Gaungnya
“Yen pasar ilang kumandange.”
Pasar adalah simbol kehidupan masyarakat — tempat transaksi, pertemuan, kebutuhan, interaksi, dan kehidupan ekonomi.
Pesannya seakan mengingatkan bahwa dakwah tidak boleh hanya berada di tempat-tempat tertentu. Dakwah harus turun ke tengah kehidupan manusia: ke pasar, ke kampung, ke sekolah, ke kantor, ke kampus, ke rumah-rumah, ke tempat orang bekerja dan mencari nafkah.
BACA JUGA:Polemik SD Negeri 62 Bengkulu Terkini
Dai tidak cukup hanya menunggu manusia datang. Dai harus datang menemui manusia.
Ketika Rasa Malu Mulai Hilang
“Yen wong wadon ilang wirange.”
Wira’i atau wirang dalam tradisi Jawa berkaitan dengan rasa malu, kehormatan, dan kepantasan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
