TOPO LELONO
TOPO LELONO--Foto:ist
BENGKULU, RBTVCamkoha.com - Sebuah Pesan Dakwah dari Tanah Jawa
Awal September 2026, saya berkesempatan mengunjungi tanah Jawa.
Saya menyempatkan diri berkunjung ke petilasan Raden Mas Said, Pangeran Samber Nyawa, di Pablengan, Karanganyar. Saya juga berziarah ke makam Jenderal Besar Soeharto dan keluarga di Giribangun, sekitar 36 kilometer dari Solo.
BACA JUGA:Jangan Ketinggalan! Tiket Kereta Api Bayar Cuma 81 Persen, Ini Syaratnya
Dua tempat itu menghadirkan suasana yang berbeda, tetapi memberikan satu renungan yang sama:
Manusia boleh memiliki perjalanan panjang, tetapi pada akhirnya semua perjalanan akan berhenti pada satu titik — kematian dan pertanggungjawaban kepada Allah.
BACA JUGA:Cara Gadai BPKB Mobil di Pegadaian, Ini Syarat dan Simulasi Cicilannya
Dari perjalanan itulah saya kembali teringat sebuah pesan yang dalam tradisi Jawa dinisbatkan kepada Sunan Kalijaga, tentang keadaan zaman dan bagaimana seorang manusia harus mengambil sikap ketika nilai-nilai kehidupan mulai mengalami perubahan.
Pesan itu berbunyi:
Yen kali ilang kedunge,
yen pasar ilang kumandange,
yen wong wadon ilang wirange,
enggal-enggal topo lelono,
njajah deso milangkori,
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
