TOPO LELONO
TOPO LELONO--Foto:ist
BACA JUGA:Jadwal Indonesia Vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026, Duel Sengit Derby Serumpun
Yang Dicari: Petunjuk dari Tuhan
Bagian terakhir justru yang paling dalam:
“Entuk wisik soko Hyang Widi.” — Mendapatkan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Artinya, perjalanan itu bukan semata-mata untuk menemukan manusia. Perjalanan itu juga untuk menemukan kembali diri sendiri di hadapan Allah.
Kita keluar untuk berdakwah kepada orang lain, tetapi sesungguhnya kita sedang memperbaiki diri sendiri. Mengajak orang salat, lalu kita belajar menjaga salat. Mengajak orang mengingat Allah, lalu hati kita sendiri belajar berzikir. Mengajak orang meninggalkan maksiat, lalu kita semakin takut kepada dosa. Dakwah kepada manusia menjadi jalan memperbaiki hubungan kita dengan Allah.
Dari Topo Lelono Menuju Syahadat
Pada akhirnya, perjalanan itu harus membawa manusia kepada satu kesadaran paling fundamental:
Lā ilāha illallāh, Muḥammadur Rasūlullāh
Tidak ada yang berhak disembah selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya.
Inilah tujuan terbesar perjalanan seorang manusia — bukan sekadar berpindah tempat, bukan sekadar bertemu banyak orang, bukan sekadar mengumpulkan pengalaman — melainkan mengembalikan hati manusia kepada Allah.
Maka saya teringat kembali perjalanan di awal September itu. Di Pangeran Samber Nyawa, kita diingatkan bahwa manusia pernah hidup, berjuang, dan meninggalkan sejarah. Di Giribangun, kita menyadari bahwa sebesar apa pun kedudukan seseorang, akhirnya semua akan meninggalkan dunia. Yang tersisa bukan jabatan, bukan kekayaan, bukan popularitas, bukan panjangnya umur — melainkan amal yang dibawa menghadap Allah.
BACA JUGA:Ini Kata Kunci Polres Mukomuko Ungkap Kasus Dugaan Pembunuhan Pelajar SMAN 5 Lubuk Pinang
Maka inilah makna terdalam topo lelono bagi kita hari ini:
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
