Iklan RBTV

Saat Amal Masjid Keliru, Nasib Negeri Mengharu-biru

Saat Amal Masjid Keliru, Nasib Negeri  Mengharu-biru

Saat Amal Masjid Keliru, Nasib Negeri Mengharu-biru--Foto: ist

Oleh: Saeed Kamyabi

BENGKULU, RBTVCamkoha -Pernahkah kita pikir, mengapa negeri yang kaya raya ini masih saja dilanda kemiskinan? Mengapa pemimpin yang kita pilih sering kali justru mengecewakan? Mengapa keadilan terasa begitu mahal dan sulit dijangkau?

Jawabannya mungkin bukan di istana bukan di parlemen. Tapi di tempat yang kita kira suci dan aman: masjid.

BACA JUGA:KPK Geledah Rumah Daditama Usai Jadi Saksi Kasus OTT Bupati Rejang Lebong Fikri Thobari

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd: 11)

Ayat ini bukan sekadar nasihat. Ini adalah hukum Allah yang tak pernah berubah. Keadaan bangsa, suasana negeri, dan nasib rakyat—semuanya bergantung pada satu hal: amal. Dan amal yang paling pertama diperhatikan Allah adalah amal di rumah-Nya: masjid.

BACA JUGA:Hotel Santika Bengkulu Sambut Semangat Kemerdekaan dengan Promo Spesial 'Merdeka Moments'

Masjid adalah bibit. Jika bibitnya baik, pohonnya akan rindang dan buahnya manis. Jika bibitnya rusak, pohonnya akan kerdil dan buahnya pahit.

Di masjid, kita belajar kejujuran. Di masjid, kita dilatih bersatu. Di masjid, kita diajarkan peduli sesama. Di masjid, kita ditempa menjadi pemimpin yang amanah. Jika di sini kita gagal, lalu di mana lagi kita akan berhasil?

Pengurus masjid adalah guru pertama bagi calon pemimpin bangsa. Ketika seorang anak melihat pengurus mengambil uang infak tanpa pertanggungjawaban, ia tumbuh dengan anggapan bahwa mengambil hak orang lain itu lumrah.

BACA JUGA:KPK Geledah 1 Rumah di Curup Rejang Lebong

Ketika ia melihat jamaah diusir hanya karena beda pendapat soal ibadah, ia terbiasa memandang perbedaan sebagai ancaman.

Ketika ia melihat masjid semakin megah namun orang di sekitarnya tetap menderita, ia belajar bahwa kemewahan lebih berharga daripada kemanusiaan.

Dan kelak, anak kecil itu bisa saja menjadi pengurus negara.

0

Mari kita telusuri bagaimana kekeliruan pengurusan rumah Allah menjadi bencana besar bagi bangsa.

BACA JUGA:Liburan Hemat, Ada Promo Tiket 5 Wahana Jagat Satwa TMII Spesial Agustus 2026

Saat Masjid Saling Menyalahkan, Negara Terpecah Belah

Perbedaan cara shalat, perbedaan pendapat soal ibadah—hal-hal yang masih dalam lingkup ijtihad—sering dijadikan alasan untuk saling mencela, saling mengkafirkan, bahkan saling menjauh.

Masjid yang seharusnya menjadi tempat berkumpulnya umat justru berubah menjadi arena perpecahan.

Lihatlah ke ruang negara. Pemimpin saling menjatuhkan. Kebijakan untuk rakyat tertahan karena konflik kepentingan. Mereka sibuk berdebat siapa benar dan siapa salah, lupa bahwa rakyat sedang menunggu keadilan. Bukankah ini cermin dari apa yang kita lakukan di masjid?

BACA JUGA:Penyaluran ADD Seluma 2026 Capai 70 Persen, 43 Desa Belum Ajukan Dana Desa Tahap II

Saat Masjid Korup, Negara Pun Korups

Masih ada yang menganggap: "Ah, itu cuma uang masjid. Tidak seberapa." Padahal ini bukan soal jumlah, tapi soal pola pikir.

Ketika pengurus masjid terbiasa mengelola harta amanah tanpa rasa takut kepada Allah, sifat itu akan terbawa ke mana pun mereka pergi. Kelak, ketika mereka atau orang yang dididik dengan pola pikir itu duduk di kursi kekuasaan, mereka akan melakukan hal yang sama. Bedanya, kali ini yang dikelola adalah uang rakyat—triliunan rupiah.

BACA JUGA:Walikota Bengkulu Tinjau Cek Kesehatan Gratis Bagi 2.000 Peserta di MIN 1 Kota Bengkulu

Konon banyak pelaku korupsi di negeri ini adalah orang yang rajin ke masjid. Bahkan tak jarang mereka adalah pengurus masjid. Mengapa? Karena ibadah mereka belum sepenuhnya mengubah cara pandang mereka terhadap harta dan amanah.

Saat Masjid Mewah, Tapi Jama'ah Menderita

Kita bisa melihat masjid dengan karpet tebal, AC dingin, dan hiasan indah. Namun di luar pagar, masih ada jamaah yang berjuang menafkahi keluarga. Pengurus sibuk mempercantik bangunan, namun lupa memperhatikan nasib umat di sekitarnya.

BACA JUGA:BSI Buka Lowongan Kerja Terbaru 2026, Cek Kualifikasi dan Cara Pendaftarannya

Pola pikir ini kemudian tercermin dalam kebijakan negara. Pembangunan fisik tampak megah, namun pelayanan kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial justru terabaikan. Inilah buah dari sikap mengutamakan bentuk di atas substansi.

Saat Masjid Mengabaikan Perempuan dan Pemuda

Masih banyak yang memandang perempuan dan pemuda sekadar sebagai objek pelayanan, bukan sebagai bagian penting yang harus diberi ruang dan peran. Padahal sejarah Islam mencatat: Sayyidah Khadijah adalah penopang dakwah, Aisyah adalah rujukan ilmu, dan pemuda seperti Mush'ab bin Umair serta Ali bin Abi Thalib adalah tulang punggung perjuangan.

BACA JUGA:Ciptakan Keamanan dan Kenyamanan, Kapolda Ajak Masyarakat Berantas Geng Motor

Jika masjid tidak melibatkan mereka, maka negara pun kehilangan potensi besar. Bangsa menjadi lemah karena membuang tenaga, pikiran, dan semangat yang seharusnya menjadi kekuatan masa depan.

Saat Masjid Dijadikan Alat Politik

Ketika mimbar masjid digunakan untuk berkampanye, ketika dana masjid dialirkan untuk kepentingan kelompok tertentu, maka rumah Allah pun kehilangan kemurniannya.

Dampaknya, agama dijadikan alat di mana-mana. Pemimpin memanfaatkan sentimen keagamaan demi kekuasaan, sementara rakyat semakin terbelah dan dimanfaatkan. Padahal masjid adalah tempat kembali kepada Allah, bukan tempat untuk membagi umat demi kepentingan sesaat.

 BACA JUGA:Segera Cek Promo Indomaret 6 Agustus 2026, Harga Minyak Goreng Lebih Murah

Pemimpin Adalah Cermin dari Amal Rakyat

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Seperti apa kalian, maka seperti itulah pemimpin yang akan diangkat untuk kalian."

Ini adalah keadilan Allah yang sempurna. Allah tidak menempatkan pemimpin secara acak. Dia mengangkat pemimpin yang sepadan dengan amal dan watak umatnya.

Jika kita menginginkan pemimpin yang jujur, mulailah dengan menjaga kejujuran di masjid.

BACA JUGA:Mobil Dinas Satpol PP Bengkulu Utara Kecelakaan di Rejang Lebong, Dua Penumpang Cedera

Jika kita menginginkan pemimpin yang menyatukan, mulailah dengan menjaga persatuan di masjid.

Jika kita menginginkan pemimpin yang peduli rakyat, mulailah dengan peduli pada jamaah di sekitar masjid.

 
Mari Mulai dari Masjid Kita Sendiri

Berhentilah menyalahkan keadaan atau pemimpin. Mari kita introspeksi diri dan mulai perbaiki dari tempat yang paling dekat dengan kita:

Jadikan masjid rumah bagi semua, tempat persatuan bukan perpecahan.

BACA JUGA:Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg per Agustus 2026, Daerahmu Berapa?

Kelola harta masjid dengan jujur, terbuka, dan penuh rasa takut kepada Allah.

Perhatikan nasib sesama, jangan hanya bangga pada kemegahan bangunan.

Berikan peran dan kepercayaan kepada perempuan dan pemuda.

Kembalikan masjid pada fungsinya sebagai rumah Allah, bukan panggung kepentingan duniawi.

Allah Maha Besar dan Maha Melihat. Tak ada amal sekecil apa pun yang luput dari perhatian-Nya. Jangan remehkan peran masjid dan amal para pengurusnya. Karena dari sinilah Allah menentukan arah dan nasib seluruh negeri.

BACA JUGA:Dinsos Kembali Terima Siswa Sekolah Rakyat, Khusus untuk Murid dari Desil 1 dan 2

Mari kita perbaiki masjid kita. Bukan hanya fisiknya, tapi juga hatinya, perilakunya, dan tata kelolanya. Jika kita sudah melakukannya, percayalah janji Allah yang tak pernah ingkar:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."

Mari kita ubah diri kita. Mulai dari masjid. Mulai dari hari ini.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita negeri yang baik, pemimpin yang adil, dan kehidupan yang penuh berkah.

Amin, ya Rabbal 'alamin.

Catatan:  Tulisan ini tidak bermaksud menyalahkan semua pengurus masjid. Masih banyak pengurus yang luar biasa amanah dan berdedikasi. Tulisan ini adalah seruan untuk introspeksi bersama, karena kita semua adalah bagian dari umat ini.


Saeed Kamyabi
Pengurus Masjid Manarul Hidayah
Balairaya Semarak Bengkulu

Nico relius
 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: