Di Rumah Ini Cinta Soekarno dan Fatmawati Bersemi, Penuh Derai Air Mata dan Pengorbanan

Kamis 14-09-2023,15:38 WIB
Reporter : Tim liputan
Editor : Purnama Sakti

Tekanan untuk memindahkan Bung Kanro dari Ende disuarakan oleh para tokoh di Batavia, salah satunya oleh Mohammad Husni Thamrin. 

 

Thamrin yang pada saat itu merupakan anggota Volksraad (Dewan Rakyat) melayangkan protes kepada pemerintah Belanda. Aksi protes tersebut kemudian membuahkan hasil, Bung Karno dipindahkan dari Ende ke Bengkulu sebagai tempat pengasingan selanjutnya. 

 

Selama pengasingannya di Bengkulu, Bung Karno ditempatkan di sebuah rumah yang awalnya adalah tempat tinggal pengusaha yang bernama Tan Eng Cian. 

 

Tan Eng Cian menyuplai bahan pokok untuk kebutuhan pemerintahan kolonial Belanda.

 

Bangunan rumah yang sampai sekarang masih terawat ini berada di Kota Bengkulu, persisnya di Kelurahan Anggut Atas. Beliau diasingkan seorang diri ke Bengkulu pada tahun 1938 dan beberapa minggu kemudian disusul oleh istrinya saat itu, Inggit Garnasih dan anak angkatnya Ratna Djuami. 

BACA JUGA:Kisah Bangunan Bersejarah Indonesia Bag 1, Borobudur Tempat Pelarian, Gedung Sate Ditunggu Sosok Berjenggot

 

Bung Karno menempati rumah ini dari tahun 1938 hingga tahun 1942. Oleh masyarakat Bengkulu, awalnya Bung Karno dianggap sebagai orang aneh sebab sikapnya yang sangat berapi-api dalam menjalin korespondensi. 

 

Banyak masyarakat yang takut dan menganggap Bung Karno akan memberikan pengaruh buruk. Meski diasingkan, gerak geriknya untuk membangkitkan semangat masyarakat merdeka dari penjajahan bangsa asing terus dilakukan. 

 

Kategori :