Lagi Stres Malah Ingin Belanja? Bisa Jadi Kamu Mengalami Doom Spending
Doom Spending, keinginan untuk belanja saat merasa stres.--
NASIONAL, RBTVCamkoha.com - Saat pikiran sedang penuh, membuka aplikasi belanja terkadang terasa seperti hiburan sederhana. Melihat-lihat barang, menemukan promo, hingga akhirnya menekan tombol checkout bisa memberikan kepuasan tersendiri.
Namun, jika kebiasaan tersebut terus berulang setiap kali menghadapi tekanan, ada baiknya mulai memperhatikan alasannya.
Belanja yang dilakukan sebagai pelampiasan emosi dan bukan berdasarkan kebutuhan dikenal dengan istilah doom spending.
Istilah ini merujuk pada kecenderungan melakukan pembelian secara impulsif untuk mendapatkan rasa nyaman atau kesenangan sesaat ketika sedang menghadapi stres, kecemasan, maupun kekhawatiran.
Fenomena tersebut semakin mudah terjadi di tengah kebiasaan belanja digital. Seseorang tidak perlu pergi ke pusat perbelanjaan untuk melakukan transaksi karena berbagai produk dapat ditemukan hanya melalui ponsel.
BACA JUGA:Self Reward dan Perilaku Konsumtif, Batas Antara Apresiasi dan Keinginan
Ketika Belanja Menjadi Pelarian
Dalam kondisi tertekan, seseorang bisa mencari aktivitas yang memberikan perasaan menyenangkan dengan cepat. Bagi sebagian orang, belanja menjadi salah satu pilihan.
Ada sensasi tersendiri ketika menemukan barang yang disukai, mendapatkan potongan harga, atau menerima notifikasi bahwa pesanan sedang diproses. Perasaan menyenangkan tersebut dapat membuat seseorang melupakan masalah untuk sementara. Namun, efeknya tidak selalu bertahan lama.
Setelah suasana hati kembali seperti semula, seseorang bisa menyadari bahwa barang yang dibeli sebenarnya tidak terlalu diperlukan. Dari sini, pola belanja impulsif dapat kembali terulang ketika tekanan emosional muncul.
Bukan Sekadar Belanja Spontan
Belanja secara spontan sesekali tentu bukan berarti seseorang mengalami doom spending. Hal yang lebih perlu diperhatikan adalah pola dan alasan di balik pembelian.
Jika seseorang berulang kali menggunakan belanja untuk mengatasi rasa stres, sedih, bosan, atau cemas, kemudian merasa menyesal setelah mengeluarkan uang, kebiasaan tersebut patut dievaluasi.
Begitu pula ketika keinginan membeli muncul meskipun kondisi keuangan sedang tidak memungkinkan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

