Alí Vaez, direktur Program Iran di lembaga kajian International Crisis Group, memaparkan bahwa ketika Iran berhadapan dengan Arab Saudi, kekuatan regional besar lainnya, Iran menyadari bahwa dirinya adalah negara Persia dan Syiah di kawasan yang mayoritas berpenduduk Arab dan Sunni.
“Rezim Iran menyadari keterasingannya dan mulai mengembangkan strategi yang bertujuan untuk mencegah musuh-musuhnya suatu hari menyerang di wilayahnya sendiri.”
BACA JUGA:Segini Jumlah Pinjaman yang Didatangi DC Lapangan Akulaku
Iran, menurut Vaez, kemudian menciptakan jaringan organisasi yang bersekutu dengan Teheran guna melakukan aksi bersenjata yang menguntungkan kepentingannya.
Hizbullah di Lebanon, yang diklasifikasikan sebagai kelompok teroris oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa, adalah yang paling menonjol.
Saat ini kelompok-kelompok yang disebut “poros perlawanan” Iran berada di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman.
Israel tidak tinggal diam. Tel Aviv telah melancarkan serangan serta tindakan bermusuhan lainnya dengan Iran dan sekutunya, seringkali di negara ketiga yang mendanai dan mendukung kelompok bersenjata pro-Iran.
Pertarungan antara Iran dan Israel digambarkan sebagai “perang bayangan” karena dalam banyak kasus kedua negara saling menyerang tanpa mengakui keterlibatan masing-masing.
Pada 1992, kelompok Jihad Islam yang terkait dengan Iran meledakkan Kedutaan Israel di Buenos Aires, menyebabkan 29 orang tewas.
Peristiwa ini terjadi sesaat setelah pemimpin Hizbullah, Abbas al-Musawi, dibunuh - sebuah serangan yang secara luas dikaitkan dengan badan intelijen Israel.
BACA JUGA:DC Lapangan Terus Mengincar, Ini Tabel Angsuran Shopee Pinjam Terbaru
Israel selalu terobsesi menghentikan program nuklir Iran dan mencegah hari ketika ayatollah memiliki senjata atom.
Israel tidak mempercayai klaim Iran bahwa program nulirnya hanya untuk tujuan sipil.
Bahkan, Israel secara luas diyakini bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk mengembangkan virus komputer Stuxnet, yang menyebabkan kerusakan serius pada fasilitas nuklir Iran, awal tahun 2000-an.
Teheran juga menuduh intelijen Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap beberapa ilmuwan dalam program nuklirnya.
Yang paling menonjol adalah pembunuhan Mohsen Fakhrizadeh pada 2020, yang dianggap sebagai sosok utama dalam program mulir Iran.